Monday, March 30, 2009

Be Careful what You wish


BE CAREFUL WHAT YOU WISH FOR YOU JUST MIGHT GET IT

Apa yang anda harapkan mungkin akan terwujud. Jadi hati-hatilah dalam berharap.

Begitulah judul artikel disalah satu majalah wanuta yang popular dan ternama. Sungguh aku terpekur sejenak. Rasanya seperti mengajakku kembali ke masa-masa lampau. Memaksa menengok kembali ke belakang. Dimana aku mesti melihat jejak-jejak kakiku yang membekas dalam jalan kehidupan yang telah aku lewati. Melihat ukiran tapak-tapak kakiku, dalam jalur kehidupan yang berliku-liku. Terkadang terjal mendaki, terkadang curam mengerikan, terkadang juga lurus melegakan. Banyak gambar-gambar telah tercetak, ada yang buram, ada yang terang. Sungguh aku merasa apa yang ditulis dalam artikel itu benar. Aku pernah bahkan mungkin berkali-kali mengalaminya.

Seperti nasehat para orang tua kepadaku “Hati-hatilah dalam berdoa”. Yah aku ingat sekali nasehat itu. Untuk hati-hati dalam berdoa, karena doa terkadang juga bisa salah terucap. Aku ingat nasehat itu, tetapi aku lalai mengingatnya kala hati begitu gundah, ketika kesedihan menikam dada. Terkadang diri ini dilanda rasa putus asa. Dalam keputusasaan itu terkadang terucap doa yang lebih bersifat rintihan. Tanpa berpikir dan lupa nasehat orang tua. Dan ternyata rintihan-rintihan itu pada waktunya dikabulkan.

Aku yakin Tuhan Maha Mengabulkan doa, bahkan dalam rintihan hati yang dilanda kepiluan sekalipun. Dari banyak peristiwa aku belajar mengambil hikmah, dalam kondisi apapun berdoalah yang bijaksana. Agar suatu hari nanti tidak memyesal. Karena aku yakin dan percaya betapa Tuhan sungguh Maha Mendengar doa-doa kita. Dan pada hari ini, pada hari jadiku, aku ingin memulai hari baru yang lebih baik. Aku tutup cerita lama, untuk mulai yang baru. Apapun yang terjadi semoga menjadi mutiara hikmah yang menjadikanku lebih matang dan bijaksana. Menjadikanku terus belajar untuk lebih ikhlas dan lebih bisa menerima kenyataan. Belajar tidak menyesali apapun yang terjadi. Belajar tidak menyesali keputusan yang telah diambil. Belajar menerima kegetiran hidup tanpa meratapinya. Belajar menerima semua luka untuk mengerti cara mengobatinya. Belajar bersyukur pada apapun yang telah terjadi. Belajar mensyukuri apapun yang telah kudapat, kumiliki dan kuterima. Belajar bersyukur atas semua pemberianNya. Belajar melihat sesuatu pada sisi yang indah-indah. Belajar, belajar, dan selalu belajar menjadi lebih baik. Karena aku tahu bahwa aku HARUS banyak-banyak BELAJAR

Ya Allah…aku mohon ampun atas segala khilaf dan salahku.
Aku mohon ampun atas semua dosa dan kekeliruanku.
Aku percaya betapa Maha Kuasa dan Maha Agungnya Engkau ya Allah..
Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui sekecil apapun yang tersembunyi di hatiku.
Berikanlah pertolonganMu kepadaku, karena hanya Engkau sebaik-baiknya penolong, dan sebaik-baiknya pelindung.
Ya Allah dengan rahmatMu-lah aku mohon pertolongan, karena tidak ada yang sulit kalau telah Engkau permudah. Dan kalau Engkau Berkendak Ya Allah… gunung berbatupun bisa menjadi lembah yang subur.
Dengan KuasaMu Ya Allah… aku memohon
Dengan KebesaranMu Ya Allah… aku meminta
Kabulkanlah permohonanku. Hanya TanganMulah yang bisa mengabulkan permohonanku.
Ya Allah dan dekatkanlah aku padaMU dengan karunia dan AnugerahMu.
Ya Allah...berilah aku cahayaMu agar aku bisa melihat dalam gelap sekalipun
Ya Allah…dan tunjukkanlah aku selalu jalan yang penuh rahmat, karunia dan ridhoMU.



Saturday, March 21, 2009

Aries Sejati



Untuk :
Sahabat-sahabatku terkasih.......

Kau yang selalu ada dikala lara dan nestapa
Kau yang selalu ada diantara derai air mata
Kau yang selalu ada dalam gundah gulana
Kau yang selalu ada dikala yang lain tak ada.

Aries adalah simbol sebuah permulaan baru. Orang Aries menjadi pemimpin zodiak-zodiak lainnya, agresif dan penuh kreativitas yang memungkinkan mereka untuk berinisiatif dalam mengadakan perubahan. Selayaknya domba jantan, mereka selalu bertindak cepat tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Mereka lebih senang mencari penghargaan daripada kekayaan dan biasanya lebih suka berbicara terus terang daripada berbasa-basi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kebanyakan dari mereka sukses berkat sikap mereka yang pantang menyerah. Aries merupakan orang yang penuh energi, pandai beradaptasi dan cepat belajar. Mereka memiliki banyak ide-ide cemerlang dan berambisis tinggi. Keras kepala, antusisas dan penuh orientasi. Bila mereka ingin sesuatu, tidak ada yang dapat menghalanginya. Mereka siap mengambil tindakan tanpa memikirkan resiko yang dapat mencelakakan diri mereka sendiri. Aries bukan seorang pengikut yang baik. Mereka memiliki semua kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin yang baik, namun sikapnya yang suka memerintah membuat orang menjauhi dirinya.

Begitulah menurut ramalan mengenai karakter orang-orang yang bernaung dibawah rasi bintang Aries. Sudah pasti ramalan itu tidak mutlak benar tetapi juga ada benarnya. Begitu juga denganku yang berzodiak Aries, tentu saja keras kepala, suka nekad, dan bertindak buru-buru tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Alias grusa grusu, tidak heran kalau kadang-kadang hidup jadi jumpalitan. Hal itu aku sadari ada benarnya, begitu juga menurut sahabat-sahabatku yang sesama berbintang Aries.

Aku punya sahabat-sahabat yang kami bersatu padu, saling mendukung karena bernaung dalam rasi bintang yang sama yaitu Aries. Sebagai sesama Aries kami saling mengerti karakter dan kemauan kami. Kami punya hobi dan minat yang sama. Bahkan seringkali kalau bertemu, tanpa diucapkanpun kita bisa memahami apa maunya he he. Pokoknya kompak berat. Dan tanpa kami sadari kami berempat ini merasakan bahwa jalan hidup yang kami lalui tidak mudah. Ada-ada saja cobaan, rintangan, dan kendala. Kami jatuh bangun bersama-sama. Gelombang hidup kami begitu dinamis naik-turun, begitu cepat tak terduga. Jarang sekali jalan yang kami lalui lempeng dan anteng-anteng saja. Ada-ada saja kerikil-kerikil tajam bahkan batu cadas didepan mata. Tetapi kami selalu saling mendukung dan menguatkan.

Kami merasa orang Aries adalah orang-orang yang pemberani dan pantang menyerah. Selalu berjuang sampai titik darah penghabisan. Jadi apabila ada salah satu dari kami yang sedang di terpa badai dalam hidupnya kami selalu mengingatkan dengan motto kami…. "Kita adalah Aries sejati." Biasanya dengan mengingatkan motto itu kami jadi bersemangat kembali menghadapi apapun yang harus kami hadapi. Bukankah kami adalah Pemberani dan Pejuang Sejati???

OK…sobat-sobatku terkasih para Aries sejati, bulan ini kita bertambah umur. Selamat Ulang Tahun sobat, semoga panjang umur dan bahagia beserta kita. Tidak perlu untuk kita nasi kuning dan tumpeng, tak perlu untuk kita lilin dan kue. Yang pasti aku mempunyai 'hadiah' yang teramat indah untuk kita renungkan.







TANGGA-TANGGA EMAS KEBIJAKSANAAN

By : Gede Prama

Diakhir Mei 2001, ada serangkaian kegiatan yang mengharuskan saya mendaki ribuan tangga lebih kurang tiga kilometer. Lelah dan letih tentu saja. Seminggu kemudian, kaki ini bahkan bengkak nyaris tidak bisa bergerak dan ditengah-tengah nafas yang tersengal-sengal, tenaga nyaris habis, kaki yang lecet, sempat saya berguman di dalam diri: bukankah kehidupan juga serupa dengan perjalanan yang penuh dengan tangga?

Bedanya, kegiatan mendaki gunung, melibatkan tangga-tangga fisik yang melelahkan fisik juga. Mendaki kehidupan, kita juga harus mendaki tangga-tangga kejiwaan yang tidak kalah melelahkannya. Menoleh pada tangga-tangga yang sudah saya lalui, baru terasa lelahnya jiwa ini. Tanpa terasa ada ribuan tangga telah dilalui. Pantas saja, kalau kadang beban dan jiwa ini meminta istirahat dengan kode sakit flu.


Ada tangga-tangga sekolah sejak masa kecil di kampung Tajun (Bali Utara) dahulu. Sebagian memang penuh tawa dan canda, sebagian lagi diisi oleh tangisan-tangisan yang menyedihkan. Ada tangga-tangga kehidupan rumah tangga yang diwarnai oleh sejumlah godaan. Ada tangga-tangga karier yang gelap maupun yang terang. Ada tangga-tangga pemahaman melalui jalan ilmu pengetahuan. Berawal dari belajar baca tulis, bergerak menuju pilosopi postmodern ala Derreida, sampai tertarik menyelami seluk beluk jiwa dengan seluruh nuansanya.
Sebagaimana mendaki tangga yang sebenarnya, lelah dan letih memang salah satu cirinya. Namun ada satu ciri yang ingin saya bagi ke anda. Semakin berat dan tinggi salah satu bagian tangga, yang tentu saja menguras lebih banyak tenaga, semakin kita dibawa ke tempat yang lebih tinggi dari biasanya. Bagian-bagian tangga yang lebih rendah dari biasanya memang memungkinkan kita untuk bernafas dan menyimpan tenaga barang sebentar. Tetapi ia tidak membawa kita ke tempat yang lebih tinggi dari biasanya.


Dengan bingkai-bingkai berpikir seperti ini, setiap kali ada godaan hidup yang jauh lebih besar saya membayangkan diri menaiki bagian tangga yang lebih tinggi dan lebih berat dari biasanya. Sebut saja makian pembaca yang tersinggung dengan salah satu tulisan provokatif buatan saya. Kendati sudah diterangkan, kalau bahasa provokatif tidak selalu berdiri diatas spirit-spirit merendahkan, terutama kalau dibuat untuk tujuan pencerahan toh hujatan dan singgungan datang bertubi-tubi. Demikian juga kalau bertemu klien yang banyak maunya. Pemilik perusahaan yang terlalu banyak menuntut. Bawahan yang tidak bisa dikendalikan. Orang-orang dijalan raya yang hanya mau menang sendiri. Anak-anak dirumah yang kadang memiliki kepentingan dan kesibukkan yang tidak bisa dibelokkan. Keluarga yang ingin ini dan itu.


Semuanya didudukkan mirip dengan bagian yang lebih tinggi dan lebih berat dinaiki dibanding bagian tangga biasanya. Lebih melelahkan, mengkonsumsi lebih banyak tenaga, kerap menghadirkan stres yang tinggi. Namun jangan lupa, ia sedang membawa kita ke tataran hidup yang lebih tinggi.
Ada orang yang menggunakan ukuran-ukuran materi dalam mengukur ketinggian hidup. Saya pun sebagian menggunakan ukuran yang sama. Namun, ada sebagian ukuran yang kadang dilupakan banyak orang. Seberapa banyak dan seberapa jauhkah kita telah berjalan dalam lorong-lorong pencerahan yang menuju kesejatian?


Menyangkut pertanyaan terakhir, ukurannya memang tidak kuantitatif. Bahkan amat realitif, sulit diceritakan dan diyakinkan pada orang lain. Ia adalah sebuah proses amat subyektif dan unik yang terjadi pada diri setiap orang. Sebagai bahan perbandingan. Saya tidak bisa membayangkan pengalaman spiritual dan pengalaman pencerahan yang dilalui seorang rekan muslim yang berlinang airmata ketika mengumandangkan suara adzan. Sulit saya bayangkan, bagaimana sahabat kristiani merasa dirinya ringan seperti mau terbang, setelah melakukan serangkaian kegiatan pelayanan di gereja. Sama sulitnya menerangkan kepada anda tentang pengalaman-pengalaman pencerahan yang saya alami.
Betapapun unik dan sulitnya menerangkan semua ini, ada seorang rekan yang mencoba menggambarkannya secara amat simbolik. Ia menggunakan jiwa dengan perlambangan bunga teratai yang ada di dalam sini. Bunga terakhir tidak hanya indah dan menakjubkan, tetapi juga menebar keharuman di sana-sini.
Persoalannya, ada tidak sedikit orang yang mencoba membuka kelopak-kelopak bunga teratai tadi secara paksa. Belum saatnya mengembang dan terbuka, tetapi ditarik-tarik secara kasar agar mengembang. Sebagai hasilnya, bunga tadi tidak saja tidak jadi mengembang, tetapi juga rusak tidak karuan.
Ini persisnya yang terjadi pada orang-orang yang mau sampai ke tangga kehidupan yang tinggi tetapi tidak mau lelah mendaki. Sebutlah orang-orang yang menggapai keindahan dan kenikmatan dengan cara menggunakan narkoba. Atau, mereka yang kaya dengan cara korupsi dan merampok. Ketemu bunga teratai memang, tetapi bunga teratai yang mekar tidak sempurna dan sebentar lagi berantakkan.
Beda sekali dengan orang yang sampai di tempat yang tinggi, namun melalui banyak sekali tangga-tangga kebijaksanaan yang tinggi, keras dan berat. Ia bertemu bunga teratai yang memang sudah saatnya mengembang, harum, menebar senyuman, sekaligus memperindah alam semesta.
Saya memang masih jauh dari bunga teratai tadi. Namun sedang berjalan penuh kelelahan menuju kesana dan tulisan inipun adalah salah satu tangga menuju kesana. Entah anda mau ikut sama saya atau tidak.


Semoga artikel diatas memberikan pencerahan bagi kita semua. Sehingga kita bisa menghadapi hidup ini dengan kepala tegak, apapun yang terjadi kita akan bisa menghadapinya. Sesulit apapun jalan yang harus kita lewati kita akan bisa melewatinya. Karena apapun yang terjadi pada kita saat ini merupakan mata rantai dari semua kejadian dalam hidup yang harus kita alami. Percayalah bahwa terkadang suatu kejadian yang kita anggap buruk saat kita harus mengalaminya, ternyata merupakan mata rantai dari kejadian-kejadian indah yang harus terjadi, bisa terjadi dalam hidup kita. Dan semoga segala yang telah kita lalui menjadi mutiara hikmah yang tak ternilai manfaatnya bagi kita. Menjadikan kita lebih bijak, lebih hati-hati. Dan perlahan tapi pasti kita harus mengucapkan selamat tinggal jauh-jauh pada si grusa-grusu itu. Kita sambut hari baru dalam hidup ini, dengan tekad untuk menjadi lebih baik, dengan satu keyakinan bahwa pelangi akan datang setelah hujan badai. Jadi jangan pernah putus asa, jangan pernah menyerah selagi jantung masih berdetak, nafas belum berhenti. Selamat ulang tahun.....




Solo, Maret 2009




Thursday, March 12, 2009

Mencari Ibu












Dimana Ibu… ketika hati begitu gundah?
Dimana Ibu… ketika hati teramat resah?
Dimana Ibu…. saat jiwa teramat lelah?
Kemanakah aku harus mengadu disaat diri ini ada dalam kehancuran?
Dengan siapakah aku bisa berbagi beban kala hidup begitu berat?
Kupandang kedepan hanya kekosongan.
Kutengok ke kanan dan kekiri hanya ada kesunyian.
Haruskah aku menoleh kebelakang?
Hanya ada kegelapan yang tertinggal.....

Aku mencari ibu.....
sebagai tempat untuk mengadu segala persoalan.
Aku mencari ibu....
Untuk sekedar melepas lelah.
Aku mencari ibu....
Untuk menghapus segala nestapa.
Karena aku percaya ibu adalah tempat yang bisa memberiku rasa yang nyaman, aman dan tentram.
Aku yakin sosok ibu akan mampu mengusir segala gundah dan resah.
Aku tahu ibu akan mampu menghapus segala duka lara.
Dan aku tahu ibu kan memberikan kesejukan serta kedamaian..

Dimanakah Ibu.....
Aku begitu ingin bertemu
Aku begitu rindu
Aku sangat berharap

Ibu....
Kemanapun kaki ini melangkah, aku selalu mencarimu.
Aku mencarimu dalam sawah hijau yang terhampar luas. Aku mencarimu dalam hiruk pikuk pasar. Aku mengejarmu dalam keramaian jalan, Aku mencarimu diantara derai air hujan. Aku mencarimu disepanjang jalan.

Ibu....
Tidakkah engkau tahu hati ini begitu gundah gulana.
Tidakkah engkau lihat jiwa ini begitu resah.
Tidakkah engkau tahu hidup ini sarat dengan nestapa.
Tidakkah engkau lihat derai air mata.

Ibu….
Begitu takut aku melihat masa depan
Begitu ngeri aku melihat kebelakang
Dan... tak berdaya aku sekarang.