Begitulah menurut ramalan mengenai karakter orang-orang yang bernaung dibawah rasi bintang Aries. Sudah pasti ramalan itu tidak mutlak benar tetapi juga ada benarnya. Begitu juga denganku yang berzodiak Aries, tentu saja keras kepala, suka nekad, dan bertindak buru-buru tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Alias grusa grusu, tidak heran kalau kadang-kadang hidup jadi jumpalitan. Hal itu aku sadari ada benarnya, begitu juga menurut sahabat-sahabatku yang sesama berbintang Aries.
Aku punya sahabat-sahabat yang kami bersatu padu, saling mendukung karena bernaung dalam rasi bintang yang sama yaitu Aries. Sebagai sesama Aries kami saling mengerti karakter dan kemauan kami. Kami punya hobi dan minat yang sama. Bahkan seringkali kalau bertemu, tanpa diucapkanpun kita bisa memahami apa maunya he he. Pokoknya kompak berat. Dan tanpa kami sadari kami berempat ini merasakan bahwa jalan hidup yang kami lalui tidak mudah. Ada-ada saja cobaan, rintangan, dan kendala. Kami jatuh bangun bersama-sama. Gelombang hidup kami begitu dinamis naik-turun, begitu cepat tak terduga. Jarang sekali jalan yang kami lalui lempeng dan anteng-anteng saja. Ada-ada saja kerikil-kerikil tajam bahkan batu cadas didepan mata. Tetapi kami selalu saling mendukung dan menguatkan.
Kami merasa orang Aries adalah orang-orang yang pemberani dan pantang menyerah. Selalu berjuang sampai titik darah penghabisan. Jadi apabila ada salah satu dari kami yang sedang di terpa badai dalam hidupnya kami selalu mengingatkan dengan motto kami…. "Kita adalah Aries sejati." Biasanya dengan mengingatkan motto itu kami jadi bersemangat kembali menghadapi apapun yang harus kami hadapi. Bukankah kami adalah Pemberani dan Pejuang Sejati???
OK…sobat-sobatku terkasih para Aries sejati, bulan ini kita bertambah umur. Selamat Ulang Tahun sobat, semoga panjang umur dan bahagia beserta kita. Tidak perlu untuk kita nasi kuning dan tumpeng, tak perlu untuk kita lilin dan kue. Yang pasti aku mempunyai 'hadiah' yang teramat indah untuk kita renungkan.
TANGGA-TANGGA EMAS KEBIJAKSANAAN
By : Gede Prama
Diakhir Mei 2001, ada serangkaian kegiatan yang mengharuskan saya mendaki ribuan tangga lebih kurang tiga kilometer. Lelah dan letih tentu saja. Seminggu kemudian, kaki ini bahkan bengkak nyaris tidak bisa bergerak dan ditengah-tengah nafas yang tersengal-sengal, tenaga nyaris habis, kaki yang lecet, sempat saya berguman di dalam diri: bukankah kehidupan juga serupa dengan perjalanan yang penuh dengan tangga?
Bedanya, kegiatan mendaki gunung, melibatkan tangga-tangga fisik yang melelahkan fisik juga. Mendaki kehidupan, kita juga harus mendaki tangga-tangga kejiwaan yang tidak kalah melelahkannya. Menoleh pada tangga-tangga yang sudah saya lalui, baru terasa lelahnya jiwa ini. Tanpa terasa ada ribuan tangga telah dilalui. Pantas saja, kalau kadang beban dan jiwa ini meminta istirahat dengan kode sakit flu.
Ada tangga-tangga sekolah sejak masa kecil di kampung Tajun (Bali Utara) dahulu. Sebagian memang penuh tawa dan canda, sebagian lagi diisi oleh tangisan-tangisan yang menyedihkan. Ada tangga-tangga kehidupan rumah tangga yang diwarnai oleh sejumlah godaan. Ada tangga-tangga karier yang gelap maupun yang terang. Ada tangga-tangga pemahaman melalui jalan ilmu pengetahuan. Berawal dari belajar baca tulis, bergerak menuju pilosopi postmodern ala Derreida, sampai tertarik menyelami seluk beluk jiwa dengan seluruh nuansanya.
Sebagaimana mendaki tangga yang sebenarnya, lelah dan letih memang salah satu cirinya. Namun ada satu ciri yang ingin saya bagi ke anda. Semakin berat dan tinggi salah satu bagian tangga, yang tentu saja menguras lebih banyak tenaga, semakin kita dibawa ke tempat yang lebih tinggi dari biasanya. Bagian-bagian tangga yang lebih rendah dari biasanya memang memungkinkan kita untuk bernafas dan menyimpan tenaga barang sebentar. Tetapi ia tidak membawa kita ke tempat yang lebih tinggi dari biasanya.
Dengan bingkai-bingkai berpikir seperti ini, setiap kali ada godaan hidup yang jauh lebih besar saya membayangkan diri menaiki bagian tangga yang lebih tinggi dan lebih berat dari biasanya. Sebut saja makian pembaca yang tersinggung dengan salah satu tulisan provokatif buatan saya. Kendati sudah diterangkan, kalau bahasa provokatif tidak selalu berdiri diatas spirit-spirit merendahkan, terutama kalau dibuat untuk tujuan pencerahan toh hujatan dan singgungan datang bertubi-tubi. Demikian juga kalau bertemu klien yang banyak maunya. Pemilik perusahaan yang terlalu banyak menuntut. Bawahan yang tidak bisa dikendalikan. Orang-orang dijalan raya yang hanya mau menang sendiri. Anak-anak dirumah yang kadang memiliki kepentingan dan kesibukkan yang tidak bisa dibelokkan. Keluarga yang ingin ini dan itu.
Semuanya didudukkan mirip dengan bagian yang lebih tinggi dan lebih berat dinaiki dibanding bagian tangga biasanya. Lebih melelahkan, mengkonsumsi lebih banyak tenaga, kerap menghadirkan stres yang tinggi. Namun jangan lupa, ia sedang membawa kita ke tataran hidup yang lebih tinggi.
Ada orang yang menggunakan ukuran-ukuran materi dalam mengukur ketinggian hidup. Saya pun sebagian menggunakan ukuran yang sama. Namun, ada sebagian ukuran yang kadang dilupakan banyak orang. Seberapa banyak dan seberapa jauhkah kita telah berjalan dalam lorong-lorong pencerahan yang menuju kesejatian?
Menyangkut pertanyaan terakhir, ukurannya memang tidak kuantitatif. Bahkan amat realitif, sulit diceritakan dan diyakinkan pada orang lain. Ia adalah sebuah proses amat subyektif dan unik yang terjadi pada diri setiap orang. Sebagai bahan perbandingan. Saya tidak bisa membayangkan pengalaman spiritual dan pengalaman pencerahan yang dilalui seorang rekan muslim yang berlinang airmata ketika mengumandangkan suara adzan. Sulit saya bayangkan, bagaimana sahabat kristiani merasa dirinya ringan seperti mau terbang, setelah melakukan serangkaian kegiatan pelayanan di gereja. Sama sulitnya menerangkan kepada anda tentang pengalaman-pengalaman pencerahan yang saya alami.
Betapapun unik dan sulitnya menerangkan semua ini, ada seorang rekan yang mencoba menggambarkannya secara amat simbolik. Ia menggunakan jiwa dengan perlambangan bunga teratai yang ada di dalam sini. Bunga terakhir tidak hanya indah dan menakjubkan, tetapi juga menebar keharuman di sana-sini.
Persoalannya, ada tidak sedikit orang yang mencoba membuka kelopak-kelopak bunga teratai tadi secara paksa. Belum saatnya mengembang dan terbuka, tetapi ditarik-tarik secara kasar agar mengembang. Sebagai hasilnya, bunga tadi tidak saja tidak jadi mengembang, tetapi juga rusak tidak karuan.
Ini persisnya yang terjadi pada orang-orang yang mau sampai ke tangga kehidupan yang tinggi tetapi tidak mau lelah mendaki. Sebutlah orang-orang yang menggapai keindahan dan kenikmatan dengan cara menggunakan narkoba. Atau, mereka yang kaya dengan cara korupsi dan merampok. Ketemu bunga teratai memang, tetapi bunga teratai yang mekar tidak sempurna dan sebentar lagi berantakkan.
Beda sekali dengan orang yang sampai di tempat yang tinggi, namun melalui banyak sekali tangga-tangga kebijaksanaan yang tinggi, keras dan berat. Ia bertemu bunga teratai yang memang sudah saatnya mengembang, harum, menebar senyuman, sekaligus memperindah alam semesta.
Saya memang masih jauh dari bunga teratai tadi. Namun sedang berjalan penuh kelelahan menuju kesana dan tulisan inipun adalah salah satu tangga menuju kesana. Entah anda mau ikut sama saya atau tidak.
Semoga artikel diatas memberikan pencerahan bagi kita semua. Sehingga kita bisa menghadapi hidup ini dengan kepala tegak, apapun yang terjadi kita akan bisa menghadapinya. Sesulit apapun jalan yang harus kita lewati kita akan bisa melewatinya. Karena apapun yang terjadi pada kita saat ini merupakan mata rantai dari semua kejadian dalam hidup yang harus kita alami. Percayalah bahwa terkadang suatu kejadian yang kita anggap buruk saat kita harus mengalaminya, ternyata merupakan mata rantai dari kejadian-kejadian indah yang harus terjadi, bisa terjadi dalam hidup kita. Dan semoga segala yang telah kita lalui menjadi mutiara hikmah yang tak ternilai manfaatnya bagi kita. Menjadikan kita lebih bijak, lebih hati-hati. Dan perlahan tapi pasti kita harus mengucapkan selamat tinggal jauh-jauh pada si grusa-grusu itu. Kita sambut hari baru dalam hidup ini, dengan tekad untuk menjadi lebih baik, dengan satu keyakinan bahwa pelangi akan datang setelah hujan badai. Jadi jangan pernah putus asa, jangan pernah menyerah selagi jantung masih berdetak, nafas belum berhenti. Selamat ulang tahun.....
Solo, Maret 2009