Thursday, April 30, 2009

Serahkan Pada TanganNya


Hari ini aku menerima curhat dari sahabatku. Panjaaang dan lama. Sampai-sampai aku sakit kepala, sampai-sampai anak-anakku jumpalitan membuat seisi rumah porak poranda. Meraka begitu heboh, ceria bersemangat karena melihat ibunya asyik menerima telpon. Mereka pikir asyiknya... ibu tidak ngomel, enaknya... ibu tidak marah-marah. Damainya.. ...ibu tidak teriak-teriak melihat segala mainan berserakan, bantal-bantal berhamburan, kartu-kartu ada dimana-mana. Seisi rumah seperti habis gempa, dan kedua anakku berlarian kesana kemari dengan bahagianya. Sedangkan anak perempuanku yang sudah mulai ABG makin asyik melototi televisi tanpa inget kewajiban belajar. Semuanya bebas. Ibu tidak marah. Ibu sedang terima telpon. Ayo..ayo bermain didalam rumah sepuasnya.

Tentu saja aku tidak enak kalau harus interupsi sejenak dari telpon temanku. Mengawasi anak-anakku tidak mungkin hanya interupsi sejenak. Dengan mereka sama saja, telpon lagi nanti malam kalau anak-anak sudah tidur. Yah hari ini hari kebebasan untuk anak-anakku, aku hanya mampu mengawasi sambil mendelik, mengerut, cemberut. Buat anak-anakku itu semua masih lampu kuning, jadi masih ada kesempatan untuk ngebut he..he..he.

Hari ini sobatku terkasih sedang curhat kepadaku tentang segala macam pengorbanan, penderitaan dan perjuangannya sebagai perempuan yang belum berjodoh. Aduh...sungguh-sungguh aku tak menyangka dia akan sesedih itu. Padahal selama ini aku selalu merasa temanku itu hebat, canggih luar biasa. Pokoknya mengagumkan. Sampai aku iri-iri, dan berkhayal menjadi seperti dirinya. Betapa tidak dia wanita mapan, sukses dan hebat di Jakarta. Punya jabatan bagus, karir mapan serta gaji yang membuatku takjub bukan kepalang. Dalam usianya yang 35 tahun, dia mapan sekali dalam hal finansial, makmur, sejahtera sentosa gemah ripah loh jinawi. Aku sering terkagum-kagum melihatnya seperti artis yang pontang-panting, bolak-balik ke luar negeri, dengan segala atribut yang serba bermerek, tercanggih, terkini, terpercaya. Siapa sangka ternyata dia tersiksa dengan keadaannya, yang belum menikah. Aku pikir dia melajang karena pilihannya, karena dia tidak pingin menikah, tidak mau repot mngurusi anak-anak. Dan selama ini dia selalu berkesan masih ada yang kurang, masih ada yang belum beres, masih ada yang harus dikerjakan sehingga belum kepikiran untuk menikah. Selama ini dia juga selalu adem ayem, santai-santai saja kalau kita ketemu ketika lebaran saat sama-sama pulang kampung. Memang benar kata pepatah “ Wong kuwi sawang sinawang”. Alias rumput tetangga selalu lebih hijau.

Menurutku dan aku sangat yakin bahwa yang namanya rizki, mati, hidup dan jodoh itu hak mutlak Allah. Sebagai manusia kita cuma bisa berusaha, usaha, usaha selalu usaha. Hasil itu milik Allah. “Apa kamu pikir aku nda usaha, Ri???” temanku meradang. “Oalaah Ri, Ri… segala usaha dah ta coba. Dari yang masuk akal sampe yang tidak masuk akal. Dari mandi kembang tujuh rupa dari air tujuh sumur sudah tak coba. Segala resep di majalah mengenai seni berkencan, resep ‘sukses membawa jantung hati ke pelaminan’, resep menaklukan lawan jenis sudah aku praktekan. Untuk menjadi pribadi yang tidak pemilihpun aku coba. Sampai-sampai siapa saja yang mau mengajakku kencan tak ada satupun yang kutolak, bahkan aku dengan semangat juang dan pantang menyerah, dengan gagah berani yang mengajak kencan duluan. Apa aku mesti makan kemenyan? Segala resep telah aku coba. Aku juga sholat tahajud, sholat hajat, sholat dhuha. Segala macam doa-doa, dzikir aku kerjakan. Apa yang salah padaku to, Ri? Kenapa dalam urusan cinta aku tidak juga beruntung.” Kali ini temenku yang sudah termehek-mehek ini berbagi kisah perjalanannya mengejar cinta. Katanya, “ Bayangkan cintaku sering sekali salah orang, salah tempat maupun salah waktu. Pernah aku memendam cinta begitu dalam dan tulus kepada seseorang yang ternyata malah tidak mencintaiku. Atau ada seseorang yang begitu gigih mencintaiku, dan aku tidak mencintainya sama sekali. Yah… cinta yang salah sasaran pokoknya. Ada juga cinta yang tepat mengenai sasaran. Panah amor itu tertancap pada hati yang tepat, waktu yang baik, tetapi tidak terbina dengan baik. Mungkin kurang komunikasi, kurang pengertian, kurang kerjasama atau kurang cinta dari kedua belah pihak, akhirnya bubar jalan. Ada yang setelah bubar hubungan pertemanan masih berhubungan baik, tetapi ada juga yang setelah bubar jadi saling melukai bahkan jadi musuh. Dalam kisah cinta aku belum beruntung, bahkan sampai usiaku yang menginjak 35 tahun ini aku masih saja salah dalam urusan cinta. Kata orang cinta bisa menjadikan kita matang dan dewasa. Tetapi setelah aku menjadi sangat-sangat matang dalam banyak hal inipun tidak menjamin lancarnya urusan cinta. “

Tentu saja aku tidak tahu dimana yang salah atau yang benar pada temenku, lha temenku itu juga berpenampilan menarik, anggun dan hebat. Baik hati, lembut tutur kata, sopan, pokoknya lulus terbaik di sekolah kepribadian deh. Kalau sudah begini...yah hanya Tuhan yang tahu bukan? Tuhan pasti punya rencana yang terbaik untuknya. “Menurutku yang penting kamu berbahagia. Apa dijamin menikah itu lebih berbahagia? Ada yang menikah tidak berbahagia, ada yang melajang justru berbahagia. Lihat sekarang banyak wanita memilih melajang. Dan mereka berbahagia, sukses, berkarir cemerlang.” Aku berkata sungguh-sungguh tanpa berniat menghibur saja. “Ya jelas aku tidak berbahagia, wong aku pingin kawin kok!” Sahut temenku ketus.

Semua orang berbahagia kalau semua keinginannya terpenuhi kan? Kalau tidak terpenuhi jelas kecewa dan tidak berbahagia. Tapi dalam hidup ini tidak mungkin kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Yang jelas aku yakin Tuhan itu maha adil. Tuhan memberi kita kelebihan disatu sisi tapi juga kekurangan disisi yang lain. Tidak ada manusia yang sempurna. Juga tidak mungkin ada bahagia yang sempurna. Sungguh paling sulit menerima kenyataan apa yang kita inginkan tidak terwujud. Aku juga belajar terus untuk selalu bisa menerima kenyataan. Itu butuh proses dan waktu. Tapi aku percaya sesulit apapun itu kita harus bisa. .

Aku juga belajar untuk bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupku dengan lapang dada, dengan ikhlas. Karena kalau tidak kita coba untuk pasrah bahwa itu adalah salah satu ketetapanNya akan berat banget rasanya. Aku pernah mengalami saat-saat yang berat banget dalam hidupku, rasanya sampai dunia kupikul sendiri. Gimana nda berat ya? Apa aku mampu??? Tidak. Ada temanku yang sangat bijaksana yang mengajariku bahwa ada saatnya kita harus pasrah, karena kita cuma bisa berusaha. Hasil itu punya Allah. Serahkanlah semua pada tanganNya, karena tanganmu sudah tak mampu. Ternyata lebih enteng setelah dicoba. Aku juga belajar untuk mengerti bahwa hidup itu fluktuaktif. Kadang naik kadang turun. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Setiap tetes kebahagian akan terganti dengan kesedihan, begitu juga setiap kesedihan pasti akan berganti dengan riak-riak kebahagian. Musim selalu berganti, roda terus berputar. Aku juga belajar dan terus belajar, terutama disaat gelombang dahsyat menerpaku, saat aku terapung-apung dalam lautan lepas, tiada pegangan, tiada tangan menolongku, aku serahkan kembali semua padaNya. Aku yakin hanya Dia yang mampu menolong, hanya tanganNya yang bisa menolongku. Kembalikan semua padaNya Dia yang menciptakan kita, Dia pula yang akan mengurus kita. Aku yakin Dia tidak akan pernah sekalipun menelantarkan kita.

Hidup itukan terdiri atas potongan-potongan puzzle, setiap potongan seakan berserakan tak terbaca, tetapi sebetulnya potongan-potongan itu adalah bagian-bagian hidup yang harus kita lewati. Sampai akhirnya nanti potongan-potongan puzzle itu akan tertata indah. Itulah gambar hidup kita. Yang penting kita harus yakin bahwa Allah itu tidak pernah keliru dalam menentukan rizki, jodoh dan hidup mati kita. Hanya kita yang terkadang tidak sabar. So… sobatku terkasih. Ada saatnya tangan kita sudah tak mampu, tangan kita terbatas. Serahkan segalanya pada TanganNya. Tangan Yang Maha Besar, Tangan Yang Maha Agung dan Tangan Yang Maha Kuasa.

Sahabatku…terkasih, tercinta aku hanya bisa membantumu lewat setulus-tulusnya doa dalam urusan ini. Karena rejeki, jodoh, hidup dan mati adalah hak mutlak Allah. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Selanjutnya serahkan padaNya.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah diciptakanNya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketentraman hati dan dijadikanNya kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaranNya. Bagi orang-orang yang berpikir (Ar-Rum : 21)"


Dalam Bingkai Persahabatan


“Biarlah tapak-tapakku melintasi padang gersang, menembus bukit sunyi. Karena aku yakin setinggi apapun gunung harus kudaki, seterjal apapun jurang yang kulalui akhirnya akan kutemui cinta yang sejati “

Aku tersenyum saat kubaca bait-bait puisi diantara foto-fotoku. Foto-foto itu berisi petualanganku ketika aku masih suka-sukanya naik gunung. Foto saat aku bersorak riang di puncak Gunung Merbabu, saat begitu bangga berhasil duduk di tugu Argo Dumillah di Puncak G Lawu, atau saat aku tersenyum bahagia setelah berletih-letih mencapai puncak G Sindoro dan lain-lain. Banyak foto-fotoku saat-saat aku naik gunung. Semua memberikan potongan-potongan seraut wajah yang bahagia, ceria, gembira tanpa beban. Aku ingat itulah masa-masa aku SMA dan awal-awal kuliah. Foto-foto yang menampilkan seraut wajah yang bersemangat.

Waktu itu aku memang lagi hobi-hobinya naik gunung. Aku ikut Mapala. Dan tentu saja tiada hari libur tanpa dilewati di gunung. Aku yang tomboy, cuek, kurus, badung komplet deh, teramat riang diantara teman-teman yang mayoritas cowok. Tapi sungguh aku senang sekali saat itu. Kami semua kompak dan punya solidaritas yang tinggi. Kami bersahabat tanpa tendensi apapun, saling menerima kekurangan tanpa mengeluh. Aku ingat waktu itu aku yang kurus sering tidak dipercaya bisa sampai ke puncak. Tetapi aku juga terkenal kepala batu, pokoknya harus sampai puncak. Alhasil teman-teman dengan setia menarik dan mendorongku. Begitu hampir sampai puncak, aku selalu diberi kesempatan pertama untuk menjejakkan kakiku di puncak dan akupun berteriak-teriak kegirangan menjadi orang pertama dalam rombongan yang menjejakkan kaki dipuncak gunung. Walau harus merepotkan teman-temanku. Setelah segala prosesi perayaan selesai, aku juga dengan rakusnya menyikat bekal teman-teman. Tanpa ragu-ragu apalagi malu-malu.

Terkadang kalau kondisi keuangan lagi menipis Kami tidak ke gunung, tapi sekedar jalan-jalan ke pantai, ke Kaliurang atau ke desa-desa di daerah Pakem. Yang pasti asyik dan bikin lapar. Aku ingat masa-masa itu Kami selalu kelaparan dan apapun makanannya semua terasa enak. Sampai-sampai Kami menamakan diri pasukan ” Sapu jagad” karena setiap ada makanan selalu licin tandas. Apapun makanannya habis semua, dari Nasi Gudeg, Nasi Padang, Nasi Pecel, ikan bakar, Getuk, Rujak, Indomie Rebus semua tak bersisa bahkan kadang sampai rebutan. Yang paling Kami tunggu-tunggu saat itu kalau salah satu dari teman Kami yang saudaranya punya hajatan. Aduh... asyik sekali. Kami datang dengan semangat juang tinggi hadir di hajatan, demi kecukupan gizi. Yah itulah kelompok anak-anak gunung atau Kelompok Anak Rimba

Di kampusku juga ada kelompok kaum bangsawan. elit, cendekiawan. Aku menamakan kelompok ini sebagai Kelompok Priyayi. Kelompok ini tentu saja tidak rakus seperti kelompok kaum rimba, mereka kaum priyayi yang makan enak di restoran dan kemana-mana bawa mobil sedan. Kegiatan meraka juga berbeda dengan kami kaum rimba, meraka berolah raga dengan berenang dihotel-hotel, main tennis, atau jadi anggota fitness center. Mereka juga pelanggan salon-salon kecantikan elit dan dokter-dokter kulit hebat. Wah aku dulu sering merem melek menyaksikan kaum priyayi ini. Ada juga beberapa kaum priyayi yang dekat denganku. Tentu saja aku tidak bisa sebebas merdeka seperti dengan anak-anak kaum rimba. Dengan kaum priyayi sopan santun, tata krama wajib diperhatikan Kasihan mereka kalau terbawa urakanku. Biasanya dengan kaum priyayi ini acaraku lebih sering sekedar jalan-jalan cari buku, nonton film, atau belanja. Biar tomboy, cuek, urakan aku juga masih mengemari fashion, kesukaanku pada fashion ini yang mengakrabkanku dengan kaum priyayi. Tentu saja aku yang bermodal tipis ini mesti pinter-pinter memadupadankan baju. Atau mesti bergerilya dari penjahit ke penjahit sampai menemukan penjahit yang cocok dengan seleraku, hasil jahitan bagus serta harga terjangkau. Ternyata kaum priyayi ini respek juga dengan seleraku. Karena pada acara tertentu aku juga berusaha tampil gaya meski dengan modal cekak. Dan kaum priyayi suka melirik juga penampilanku. Bahkan ikut menyontek bajuku.

Terus ada juga Kelompok Ibu-Ibu Dharma Wanita, mereka marah-marah tapi mesem-mesem kalau aku panggil begitu. Mereka itu kelompok yang targetnya para Taruna Angkatan Udara. Mereka semangat sekali kalau ada acara pesta-pesta akhir pekan di Komplek Angkatan Udara. Cara mereka berdandan nyaris seragam , sama dengan pasangannya yang berseragam biru tua. Kalau ada acara pesta, ibu-ibu dharma wanita ini, sibuuuuknya minta ampun, dari persiapan baju, luluran, pesan salon dan segalanya. Masalah baju paling heboh tentu saja, segala cara dilakukan, yang dompet tebal dengan gampang belanja kemana-mana, yang dompet tipis tetap berusaha, dari berusaha pinjam, beli baru walaupun harus ngutang tidak masalah, yang penting…jadi ibu jendral. Banyak sahabatku berasal dari ibu-ibu dharma wanita ini, aku juga dengan senang hati membantu mereka bersiap-siap untuk pesta. Kalau jemputan datang aku melepas mereka seperti ibu kos melepas anak-anaknya.

Mereka semua mewarnai hari-hariku. Aku bahagia bisa dekat dengan berbagai kalangan. Menjalin persahabatan tanpa membedakan kelompok-kelompok, walau begitu kelompok anak rimba adalah rumahku. Aku berusaha mengambil sisi baik dari semua teman-temanku. Aku belajar banyak dari mereka. Akhir-akhir masa kuliahku dari foto-fotoku, aku mendapati diriku lebih feminim, mengganti sepatu ketsku dengan sepatu model pumps, menganti t-shirtku dengan blouse, mulai pakai lipstik dan bedak. Wow..ternyata pengaruh kaum priyayi dan ibu-ibu dharma wanita ini banyak mengubahku. Aku juga mulai jarang naik gunung, keluyuran, dan yang tak pernah kusadari aku juga jadi menjaga sikap. Lebih menjaga ekspresi. Aku tidak pernah sadar itu, yang jelas aku jadi makin tertutup dan susah mengekspresikan perasaan. Aku rindu teman-teman rimbaku, ternyata bersama mereka aku bisa melepaskan bebanku. Tapi aku juga berterima kasih pada ibu-ibu dharma wanita dan kaum priyayi. Mereka mengajariku untuk lebih tahu tata krama, dan etika.

Kemanakah sahabat-sahabatku itu??? Kami bercerai berai begitu sejak mulai KKN, karena kami harus berangkat dengan beda teman-teman lain fakultas, lain angkatan dan bercerai berai dalam kabupaten atau kecamatan yang berbeda. Diantara teman-teman KKN kutemukan sahabat-sahabat baru yang lebih heterogen lagi. Dari kelompok priyayi, kelompok rimba, kelompok ibu-ibu dharma wanita, kaum feminis sampai kaum ilmuwan juga kudapati. Kami ternyata malah berteman lebih intens walaupun kenal dalam waktu singkat. Mungkin karena kami harus menjadi satu keluarga yang mau tidak mau harus beradaptasi. Aku belajar untuk lebih mengenal karakter teman-teman lebih mendalam. Karena setelah aku tahu lebih dalam, ternyata apa yang nampak diluar itu tidak selalu sama dengan yang sebenarnya. Aku punya teman yang penampilannya macho sekali, perut six pack, rajin fitnes, segala atributnya berkesan jantan, tetapi aku hampir mati tercekik menahan tawa ketika tahu bahwa teman macho-ku ini ternyata sangat takut alias phobia pada kupu-kupu. Ya ampun...kupu-kupu yang indah, gemulai itu sanggup membuatnya meringkuk-ringkuk dibawah meja saking takutnya. Atau temanku yang luar biasa pendiam seperti batu ternyata bisa merepet seperti petasan cabe rawit ketika tersinggung. Hebatnya biar terdiri dari berbagai macam ragam karakter manusia kita semua bisa kompak, bersahabat bisa menerima kekeurangan masing-masing. Kalau akhirnya kamu harus berpisah lagi, karena perjalanan hidup masing-masing menghendaki begitu. Semua datang dan pergi, silih berganti. Meninggalkan begitu banyak cerita yang manis, mengesankan.

Nasib orang tidak pernah ada yang tahu, begitu juga nasib kami, begitu lulus kami lebih tercerai berai lagi. Ada yang mendarat empuk menjadi nyonya dr. X, jadi nyonya kapten Y atau jadi nyonya Mr Z, banyak juga yang dengan semangat emansipasi RA. Kartini memutuskan berkarir cemerlang dulu baru berpikir menjadi nyonya. Banyak juga karena belum dapat gandengan mau tidak mau cari kerja dulu sembari cari suami. Tetapi ada juga yang apes tidak dapat pekerjaan, harus menganggur berlama-lama, dan gandengan juga belum ketemu. Nasib tidak bisa ditentukan dengan cemerlang otak maupun wajah yang cemerlang. Ada temanku yang dari dulu terkenal berotak encer dengan Indeks Prestasi diatas 3, punya wajah ayu priyayi dan perawakan langsing, luwes seperti penari keraton, ternyata belum juga dapat pekerjaan dan juga gandengan. Ada juga yang berwajah serta penampilan sederhana juga otak yang sedang-sedang saja menjelma jadi wanita sukses berkarir cemerlang, Bahkan ada temanku dari kelompok rimba abadi, berakhir jadi istri dan ibu yang sangat kompeten mengurus anak-anaknya. Nasib memang seperti roda berputar kadang diatas kadang dibawah. Aku juga mengalami putaran roda-roda nasib yang tak kunjung mereda, setelah hampir dilanda tragedi krisis percaya diri yang dahsyat karena kelamaan menganggur, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sangat aku syukuri, aku nikmati, dan mengembalikan hari-hari indah dalam hidupku. Walaupun tidak bergaji dahsyat tapi bisa mencukupi kegemaranku akan fashion dan jalan-jalan. Dan sekian lama keluyuran kesana-sini, muter-muter kemana-mana akhirnya kutemukan gandengan juga yang sekarang dengan sukses membuatku jadi ibu beranak tiga.

Dari perjalanan hidupku yang kadang tak tentu arah dan angin ini aku juga punya sahabat yang menyertaiku sejak semasa kuliah, mereka kukenal sambung menyambung tanpa aku sadari. Kami bersahabat terus bergulung-gulung dalam menghadapi gelombang hidup yang kadang naik kadang turun. Kami saling mendukung, membantu. Menjadi suporter satu sama lain. Persahabatan kami lintas umur, lintas kampus, lintas almamater dan lintas daerah. Tetapi persahabatan kami tetap intens dalam kondisi apapun, dalam jarak jauh maupun lokal. Persahabatan dan kedekatan kami bermula karena kami bernaung dalam horoskop yang sama. Kami berada dalam naungan rasi bintang Aries. Mungkin karena merasa berkarakter sama kami menjadi langsung dekat satu sama lain. Kami merasa wanita-wanita Aries, adalah orang-orang yang keras kepala, suka melawan arus, impulsive, moody, jutek, ketus dan yang terdahsyat suka dibilang berlidah tajam. Yah berlidah tajam sebagai ekspresi kejujuran dan keterus-terangan kami, itulah dalih kami dalam membela diri. Selain kekurangannya itu kami merasa orang-orang Aries ulet, pantang menyerah, optimis, dan setia kawan. Kami juga merasa orang-orang Aries hidupnya tidak pernah mudah. Banyak rintangan dan kendala yang harus kami lewati. Mungkin karena semua ini kami jadi bersahabat.

Bagiku sahabat adalah harta yang tak akan terganti. Aku tidak melihat dari kalangan, jenis atau apapun asal sahabatku. Persahabatan tidak pernah mengenal garis dan batas. Persahabatan akan selalu mampu melewati dimensi apapun, mampu merentang jarak dan waktu. Dalam persahabatan tersimpan segala kemurnian, keindahan kasih dan sayang. Dalam persahabatan ada saatnya menerima ada pula saatnya memberi. Seperti sebuah lagu "Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu " Semoga dalam perjalanan hidupku, aku juga memberi manfaat bagi sahabat-sahabatku. Yang jelas aku menyimpan kasih dan cinta untuk sahabat-sahabatku.

Special untuk sahabatku yang lama menghilang: Novita (Mbak Ita) dari Bojonegoro, Jatim & I Made Ayu Santi (Santi) dari Jakarta dimanapun kamu berada aku menyimpan kasih dan sayang dalam hati. Thanks atas hari-hari indah yang telah kamu berikan padaku.

Pondok Rani



SEPOTONG CERITA SEPOTONG KENANGAN

Dunia maya, memang lebih mudah dijangkau ketimbang dunia nyata. Setidaknya dalam dunia maya itulah aku kembali bertemu dengan teman-temanku yang telah lebih dari 15 tahun terpisahkan. Teman-teman semasa di TPB IPB. Teman-teman dari Pondok Rani Yah...kemajuan teknologi benar-benar menjadikan dunia terasa sempit. Kita sanggup menjangkau dunia hanya melalui sepotong Blackberry yang ukurannya tidak lebih besar dari kotak makan anakku. Aku kembali bertemu teman-temanku walau hanya melalui facebook Senang, kangen, dan entah kenapa rasanya kembali menjadi muda.

Pondok Rani, begitulah nama sebuah asrama putri berlantai dua diujung jalan Malabar di kota Bogor. Bangunan Pondok itu berbentuk U dengan ruang kosong ditengahnya. Ruang kosong itu kemudian didirikan sebuah bangunan kecil yang difungsikan untuk musholla. Asrama itu berisi kurang lebih 19 orang mahasiswi, ditambah 2 orang pembantu rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah, mencuci, memasak sekaligus ibu asrama. Seingatku dulu, kami dikenai uang makan bulanan yang kemudian dikelola oleh kami dengan pembagian jadwal mengatur menu bergiliran setiap minggunya.

Setiap kamar di Pondok Rani diisi dua orang mahasiswi. Kami semua satu angkatan di TPB, Institut Pertanian Bogor. Kamar paling ujung dilantai bawah adalah Isna dari Madiun dan Yenny dari Ponorogo. Kamar disudut dekat kamar mandi dihuni Lia dari Cirebon dan Ririn Lewa dari Makasar, kamar sebelahnya Lisa dan Ririn Ros keduanya dari Jakarta, sebelahnya dihuni Mbak Risma orang Surabaya yang ambil Strata Dua di IPB. Terus kamar sebelahnya aku dengan Lenny Siregar dari Medan, terus Santi dari Jakarta, Rita dari Padang dan Nina dari Pare-Pare, sebelahnya disudut digunakan untuk dapur di depannya kamar mandi, disebelah kamar mandi di ujung yang satunya adalah Tanti dan Neni keduanya dari Jawa Timur. Kemudian dilantai atas ada Mona dari Ambon, Maria, Icha, Diana dari Jakarta dan Vivi dari Toraja. Mungkin karena kami satu angkatan, kami menjadi sangat kompak.

Banyak peristiwa dan kejadian yang aku alami selama tinggal di Pondok Rani. Kadang tertawa, kadang menangis, kadang sedih, kadang gembira mewarnai hari-hari kami. Di Pondok Rani aku juga mengalami banyak hal, yang memberiku banyak hikmah di kemudian hari. Aku merasa menjadi lebih sayang kepada Ibuku setelah aku jauh dari Beliau, karena dulu waktu SMA aku jarang sekali bisa akur dan mengerti ibuku. Dalam pikiranku kala itu ibuku sungguh-sungguh tidak adil padaku. Ibuku lebih menyayangi kakak dan adikku, karena itu aku lebih banyak main keluar dengan teman-temanku. Dan baru setelah aku tinggal di Pondok Rani, jauh dari kampungku, jauh dari ibuku, baru aku menyadari betapa ternyata aku menyayangi ibuku.

Aku juga teringat waktu di Pondok Rani aku suka jahil, terutama dengan mbak Risma, dalam pikiranku waktu itu mbak Risma sangat ‘jaim’ dan sombong. Karena itu aku suka banget jahil. Kalau giliranku sedang mengatur menu makanan, aku tahu mbak Risma alergi ayam. Maka selalu menu yang aku susun bertema ayam. Duh...kebayangkan jahilnya aku. Maafkan aku ya.... Mbak. Dimanapun mbak Risma berada saat ini aku sungguh-sungguh minta maaf akan kejahatanku kala itu. Setelah beranjak dewasa baru aku mengerti, bagaimana kami bisa akrab, saat itu kami baru lulus SMA dan jadi mahasiswi TPB, dengan aroma remaja masih teramat kental mewarnai hari-hari kami. Sementara mbak Risma selain sudah jadi dosen, juga sedang ambil S2. Jarak usia, kedewasaan, pendidikan, dan latar belakang itulah yang menyulitkan kami jadi bisa berteman akrab. Baru aku sadari juga Mbak Risma sungguh-sungguh ‘kakak’ kos yang amat toleran, yang tidak pernah marah walaupun kami berisiknya minta ampun, yang tidak pernah protes kami teriak-teriak disaat mbak Risma ujian. Mbak Risma luar biasa tabah dan tangguh menghadapi kami kancil-kancil yang kurang ajar sekali waktu itu. Sekali lagi maafkan aku ...mbak. Sungguh-sungguh aku minta maaf atas kejahatan yang terkoordinir itu. Manusia berproses, tumbuh, dan berkembang. Begitu pula aku, aku menyadari kekeliruanku, kesalahanku dan kejahilanku. Aku berharap tidak ada kata terlambat untuk minta maaf.

Setelah kenaikan tingkat dari TPB kami kancil-kancil Pondok Rani itu bercerai berai menjemput nasib, dan mimpi masing-masing. Selain banyak yang berubah jurusan, ada juga yang pindah kuliah. Aku termasuk salah satu yang pindah saat itu, selain aku terpaksa masuk di jurusan yang aku tidak suka, aku juga merasa lebih nyaman dekat dengan ibu. Kemudian aku pindah ke Yogya. Apapun yang terjadi dalam hidupku aku percaya karena ulah dan perbuatanku sendiri. Terkadang kejahilan kita di masa lampau terbalas di masa kini. Aku juga percaya bahwa jalan yang terjal, berliku, berbatu, adalah jalan yang menjadikan aku lebih kuat, dan lebih tangguh. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, sagala sesuatu akan terasa indah pada waktunya. Seperti akhirnya aku menyadari bahwa hari-hari di Pondok Rani memberiku banyak hikmah.

Thanks…untuk teman-teman Pondok Rani. Banyak kenangan di Pondok Rani yang membawa perubahan yang lebih baik untukku. Sungguh tak pernah kusangka bakal ketemu lagi. Setelah lebih dari lima belas tahun terpisahkan. Walau saat ini baru terwujud di dunia maya. Salam kangen.

Cerita Kecil Tentang Tawakkal



Dalam salah satu session pengajian yang aku ikuti, Bu Anis guruku mengaji mengajariku tentang ‘Tawakkal’. Sebenarnya arti Tawakkal adalah mempercayakan sepenuhnya kepada Allah yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, disertai dengan upaya menjalankan semua penyebab yang diperintahkan Allah sebagai realisasinya. Tawakkal memiliki pengertian yang lebih umum dari sekedar minta tolong, tetapi juga berserah diri dan bersyukur terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Allah semata bagimu walaupun tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan ( dikutip dari ‘ Amalan Hati oleh Muhammad bin Shalih Al- Munajjid).

Dalam pengajian saat itu Bu Anis tidak mengulas panjang lebar mengenai arti, hakekat dan definisi tawakkal. Tetapi lebih kepada penerapannya sehari-hari. Disini Bu Anis berkisah tentang seorang penjual Tahu yang bernama ‘Mbah Parto’. Mbah Parto tentu saja miskin sekali, Mbah Parto adalah janda yang harus menghidupi dua orang anaknya dengan berjualan Tahu. Tetapi Mbah Parto adalah orang yang tekun beribadah dan berkemauan keras. Mbah Parto sangat ingin sekali naik haji. Dilihat dari penghasilan Mbah Parto yang hanya penjual Tahu kecil-kecilan hampir dikatakan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah bagus. Tetapi Mbah Parto bertekad kuat dan yakin bisa pergi Haji. Disinilah hebatnya Mbah Parto, Mbah Parto bisa mempraktekkan Tawakkal dalam hidupnya sehari-hari. Berjualan Tahu merupakan usaha yang bisa ditempuh Mbah Parto, tetapi Mbah Parto yakin bahwa rejeki itu milik Allah, karena itu Mbah Parto dengan yakin terus berjualan Tahu dan berusaha menabung. Yah ... Allah seperti apa yang di sangka hambaNya, Demikianlah akhir ceritanya Mbah Parto sukses bisa pergi Haji. Setelah hampir lima belas tahun menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit.

Cerita ini sesungguhnya sangat sederhana, tetapi entah kenapa memberi pelajaran moral yang sangat berharga kepadaku. Selama ini aku selalu berkata aku berusaha, berdoa dan bertawakkal kepadaNya. Tetapi benarkah aku sudah benar-benar dalam bertawakkal. Selama ini aku selalu berhitung, selama ini aku belum yakin akan kebesaranNya. Aku belum yakin bahwa rejeki itu benar-benar milikNya. Terkadang disaat aku memperoleh apa yang kuinginkan aku sombong merasa aku telah berjuang, merasa bahwa aku memang layak mendapatkan apa yang aku inginkan, aku merasa rejeki lagi baguslah, dan sebagainya. Tidak tahu diri aku, bahwa apapun yang aku peroleh, setetes air yang aku minum, oksigen yang aku hirup semua adalah anugerahNya. Sangat sedikit aku memahaminya. Dan di kala sedang susah aku merasa bernasib sial, merasa ada yang tidak benar pada apa saja, aku menyalahkan apa saja. Betapa dangkalnya aku selama ini, betapa malunya aku padaMu Ya Allah. Betapa aku kurang menyadari, meresapi yang sebenar-benarnya bahwa segala sesuatu itu hanyalah milikNya. Kalaulah sedang mudah dan lancar semuanya itu karena Allah sedang memudahkan, sebaliknya kalau sedang sulit itu karena Allah belum memberikan kemudahan. Sekarang aku BELAJAR lebih mengerti bahwa benarlah tidak ada manusia yang luar biasa hebat. Dia hebat karena Allah yang memudahkan urusannya, Allah memberi kesempatan kepadanya, Allah sedang menutup aib-aibnya. Dan di kala sedang jatuh, janganlah putus asa, karena apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin kalau Allah sudah berkehendak, bahkan gunung berbatupun bisa jadi ladang yang subur kalau Allah sudah berkehendak.


Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa arta taj’alul hazna idza syi’ta sahlan (Ya Allah ya Tuhan Kami, tiada yang mudah selain yang Kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika engkau menghendakinya menjadi mudah)


Ya..Allah terima kasih Engkau beri aku kesempatan untuk mengerti apa yang benar, serta untuk menyadari apa yang selama ini keliru. Ya Allah mohon AmpunMu selalu atas semua kekeliruanku. Mohon AmpunMu atas kesombongan, kekhilafan, dan kebodohanku. Ya..Allah....dekatkanlah aku padaMu karena anugerah dan kurniaMu.


Untuk Bu Anis terima kasih atas semua bimbingan, pelajaran dan nasehat untukku. Terima kasih telah memberiku pencerahan. Terima kasih telah menjadi oase bagiku.

Wednesday, April 15, 2009

Kartini-KartiniKu



Hari Kartini,..... seperti biasa nuansa kebaya ada dimana-mana. Dikantor-kantor, sekolah- sekolah, ada acara peringatan hari Kartini. Ada fashion show, ada merangkai bunga, lomba memasak dll. Apapun wujud perayaannya, aku sungguh -sungguh kagum dengan wanita-wanita Indonesia yang memanfaatkan kesempatan yang ada. Wanita-wanita Indonesia sungguh-sungguh tangguh dan luar biasa. Wanita-wanita Indonesia sungguh hebat.
Tetapi tidak semua wanita-wanita Indonesia beruntung, karena masih banyak sekali wanita-wanita Indonesia yang belum beruntung, terkadang aku juga ikut sedih, dizaman yang sudah demikian hebat dan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada wanita, ternyata masih banyak sekali sahabat, teman dan sodara yang masih teraniaya dan terlecehkan hak-haknya. Masih banyak yang mengalami KDRT. Sungguh baru aku tahu bahwa KDRT tidaklah hanya bersifat fisik saja. Aku sungguh-sungguh turut berdoa agar sahabat, teman dan sodara yang masih terbelenggu hak-haknya, masih teraniaya harga dirinya ini, bisa melewati semuanya.
Aku hanya ingin sekedar berbagi cerita tentang sahabat-sahabatku yang tangguh-tangguh dan bermental baja ini, menurutku mereka juga Kartini-kartini masa kini yang perjuangannya untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya sungguh luar biasa. Aku punya sahabat sebutlah namanya Mbak A. Mbak A adalah wanita hebat menurutku, dia wanita karir, punya jabatan bagus di kantor pemerintah, gaji Ok, fasilitas memadai, Lulusan S2 dari perguruan tinggi ternama di Indonesia. Ibu dua orang anak. Berpenampilan bagus. Walaupun tidak terlalu modis, tapi rapi dan menarik. Mbak A orang yang baik, bertanggung jawab, orangnya adem, tidak emosional, sangat logis dan berdedikasi tinggi. Mbak A punya suami yang keren dan juga punya jabatan tinggi di salah satu Bank pemerintah. Dilihat dari luar mereka keluarga harmonis, mapan, sejahtera. Suami istri berkarir bagus, berekonomi dan status sosial mapan, dengan dua anak yang manis-manis. Hanya satu kata mewakili 'keluarga kecil sejahtera'. Itulah yang aku lihat. Tetapi...tahukah sobat bahwa untuk mencapai semua itu mbak A harus berkorban dan berdarah-darah hatinya setiap waktu. Bagaimana tidak ternyata suami Mbak A, yang hebat itu suka sekali iseng-iseng diluaran. Alias secolek, dua colek dengan wanita lain. Oh...dan sungguh Mbak A mengetahui tabiat buruk suaminya itu. Pertama kali Mbak A tahu, sungguh tak terbayangkan rasanya, Mbak A merasa dikhianati, di bohongi, marah, sakit, sepertinya dunia ambruk seketika. Amarah, rasa sakit, dan tuntutan untuk berpikir logis, bertarung terus setiap saat. Dan yang aku kagumi dari Mbak A, yaitu setelah mengalami hati yang berdarah-darah, jantung yang sering soak, paru-paru kehabisan oksigen, mbak A berani memilih berpikir logis, realistis. dan berani mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Kalau mbak A menggugat suami, suaminya akan di pecat, anak-anak akan susah dan seterusnya, seterusnya.... mbak A lakhirnya memilih mengalah, berkorban, demi anak-anak. Walau mbak A harus sering terlecehkan, terhinakan, dia tetap berjuang, berkorban, mempertahankan rumah tangganya. Jadi keluarga kecil nan sejahtera itu berdiri diatas pondasi hati yang berdarah-darah . Sungguh sampai kapan mbak A bertahan???? Padahal kalau Mbak A memilih bercerai dia juga sanggup menghidupi diri sendiri dan kedua anaknya, dia mempunyai karir dan penghasilan sendiri. Tetapi itulah yang membuat aku salut padanya, dia berkorban seperti itu, karena dia tidak ingin anak-anaknya menderita, dia tidak ingin kedua orang tuanya kecewa.
Aku juga punya sahabat, sebut saja 'Mbak B' dia cantik, langsing, menarik bahkan diusianya yang sudah kepala empat. Mbak B juga hebat, dia Direktur salah satu Bank Swasta ternama di sebuah kota. Mbak B, sungguh hebat, pintar segalanya. Mbak B mempunyai tiga orang anak. Keluarga Mbak B juga terlihat sejahtera , mapan dan harmonis. Tetapi ternyata suami mbak B yang katanya pengusaha itu, lebih banyak menghabiskan uang daripada menghasilkan uang. Sehingga sebenarnya rumah tangga itu bisa tegak karena jerih payah mbak B. Jadi mbak B- lah tulang punggung dan sapi perahan dalam rumah tangga itu. Si suami tenang-tenang saja, karena selalu berdalih kalau mbak B mau bekerja , harus bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sebagai kompensasi mbak B yang telah meninggalkan rumah seharian. Jadi mbak B, bekerja, berkarir hebat bukan karena aktualisasi, tapi karena kebutuhan hidup, karena mbak B HARUS menghidupi suami dan ketiga anaknya. Kenapa Mbak B tidak memilih berpisah dari suami yang tega menjadikan istrinya sapi perahan?? Seperti Mbak A, Mbak B juga bertahan dengan alasan pertama adalah anak-anak.
Terus cerita tentang sahabatku si C, dia juga hebat lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia, punya karir yang bagus. Tetapi sejak menikah si C tidak boleh bekerja, karena anak-anaklah, pokoknya setiap kali si C akan mulai bekerja lagi, selalu saja anak-anaknya yang dijadikan alasan, yang nakal, yang bandel selalu ada saja alasan. Suami si C yang sangat penurut dan takut kepada ibunya selalu saja menuruti kemauan ibunya yang amat curiga kalau si C bekerja jadi selingkuhlah dan sebagainya. Kenapa ibu mertuanya begitu tidak suka si C bekerja, karena ibu mertuanya tidak ingin anak laki-laki kesayangannya terlantar dan tersaingi . Akhirnya si C dengan segala kecerdasan, ketrampilannya harus tenggelam dalam dunia suami dan mertuanya, bahkan dalam kondisi ekonomi yang seadanya. Si C juga tetap bertahan. Semua untuk anak-anaknya.
Terus cerita tentang si D, yang sungguh-sungguh dia harus mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang bersifat fisik. Karena suami Si D sangat ringan tangan dan enteng mulut. Terus cerita si E, temenku yang satu ini memilih jadi single parent karena dia tidak mau dipoligami. Dan masih banyak lagi cerita temen-temenku yang lain, yang belum beruntung, yang masih teraniaya. Bahkan temen-temenku ini semuanya juga perpendidikan tinggi, dari keluarga menengah, yang pada masanya dulu merupakan harapan dan kebanggaan orangtuanya masing-masing. Para orang tua itu bersusah payah menyekolahkan gadis-gadisnya setinggi-tingginya dengan berjuta harapan. Harapan agar memiliki kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera ,lebih
bahagia dari orang tuanya. Semua teman-temanku ini berjuang, bertahan, berkorban demi apapun yang mereka yakini kebenarannya, mereka percayai sebagai pilihan terbaik dari semua pilihan yang ada. Walau terkadang hidup tidak seindah impian. Walau harapan jauh dari kenyataan. Walau hidup harus melewati jalan yang berliku, hidup memaksa mereka menempuh bukit terjal dan gunung berbatu. Tetapi yang aku tahu dan aku kagumi pada teman-temanku itu, adalah mereka sungguh-sungguh wanita-wanita tangguh dan berhati baja. Pedihnya kehidupan, ombak kehidupan tidak mampu menenggelamkan mereka. Mereka tegak berdiri melawan, bertahan, berjuang. Emansipasi memang sebuah pilihan. Dan apapun pilihannya semua harus diperjuangkan. Untuk Kartini-kartiniku jangan pernah menyerah.

Monday, April 13, 2009

Abu-Abu Tak Selalu Kelabu


Ketika aku iseng-iseng mencoba mengikuti tes aura, betapa terkejutnya aku saat melihat hasil tes aura tersebut. Hasil tes auraku adalah dominan warna abu-abu yang artinya adalah kesedihan, kemuramam dan sedikit ketakutan. Wah…bener-bener wah deh. Begitukah???


Aku jadi teringat bukankah warna abu-abu sedang tren sejak tahun kemaren sampai sekarang. Abu-abu bahkan sebagai penyeimbang antara warna putih dan hitam. Abu-abu juga akan tampil sangat cantik dan memikat dengan warna fucshia, akan terlihat ceria dengan warna magenta, juga tetap lembut dengan biru muda. Yah intinya abu-abu akan tetap semarak dan hangat juga dengan sentuhan warna-warna yang lain. Bahkan abu-abu akan menghasilkan kombinasi warna yang beragam tergantung bagaimana kita memadupadankan. Yah... abu-abu tak selalu berkesan kelabu bukan?


Terus...apa hubungannya dengan tes auraku tadi??? Yah..tentu saja aku mesti mengambil sisi positif dari kombinasi warna tadi. Biar tidak kelihatan bermuka sedih dan bertampang muram, jelas mesti banyak-banyak tersenyum dan tertawa. Jangan suka cemas, memanagemen stress dengan baik, selalu bersyukur dan jangan selalu melihat keatas dan ke depan terus. Yah.. aku merasa adakalanya untuk tidak selalu melihat kedepan dan keatas terus. Karena terlalu sering melihat keatas dan kedepan sering membuat aku jadi merasa ketinggalan, merasa kekurangan dan jadi tidak bersyukur. Boleh melihat keatas dan kedepan tapi harus tetap bersyukur pada apapun yang telah dimiliki dan apapun yang telah didapat. Hidup juga telah mengajariku bahwa kita tidak selalu bisa meraih apapun yang kita inginkan. Jadi terima dan syukuri apa yang telah kita dapat.


Jadi daripada terkejut dengan hasil tes aura yang berwarna abu-abu nan kelabu itu, lebih baik aku menbuat warna abu-abu menjadi lebih asyik dengan ditambah warna oranye, atau biar hangat banyak-banyak diberi warna magenta, atau sering-sering saja pakai baju warna-warna cerah. Bukankah sudah sering orang berkomentar bagus kalau aku sedang pakai baju warna cerah. Itu artinya aku tidak terlihat suram dengan warna cerah. Jadi meriah dan ramai, seperti permen.


Yang jelas hasil tes aura itu menyadarkanku untuk terus berusaha menjadi sosok yang lebih berbahagia, apapun keadaan dan kondisiku. Bahagia memang harus diupayakan. Aku harus banyak bersyukur Tuhan memberiku jalan yang tidak pernah mudah dalam hidup ini. Karena akhirnya aku jadi banyak belajar. Karena jalan yang sulit menjadikan aku kuat dan tangguh. Aku juga yakin bahwa dibalik awan kelabu selalu ada cahaya gemilang. Dan warna abu-abu bisa dengan mudah dipadupadankan dengan warna-warna cerah. Warna abu-abu bersahabat dengan fucshia, magenta, oranye, biru muda bahkan kuning lemon. Wow... jadilah abu-abu nan ceria