SEPOTONG CERITA SEPOTONG KENANGAN
Dunia maya, memang lebih mudah dijangkau ketimbang dunia nyata. Setidaknya dalam dunia maya itulah aku kembali bertemu dengan teman-temanku yang telah lebih dari 15 tahun terpisahkan. Teman-teman semasa di TPB IPB. Teman-teman dari Pondok Rani Yah...kemajuan teknologi benar-benar menjadikan dunia terasa sempit. Kita sanggup menjangkau dunia hanya melalui sepotong Blackberry yang ukurannya tidak lebih besar dari kotak makan anakku. Aku kembali bertemu teman-temanku walau hanya melalui facebook Senang, kangen, dan entah kenapa rasanya kembali menjadi muda.
Pondok Rani, begitulah nama sebuah asrama putri berlantai dua diujung jalan Malabar di kota Bogor. Bangunan Pondok itu berbentuk U dengan ruang kosong ditengahnya. Ruang kosong itu kemudian didirikan sebuah bangunan kecil yang difungsikan untuk musholla. Asrama itu berisi kurang lebih 19 orang mahasiswi, ditambah 2 orang pembantu rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah, mencuci, memasak sekaligus ibu asrama. Seingatku dulu, kami dikenai uang makan bulanan yang kemudian dikelola oleh kami dengan pembagian jadwal mengatur menu bergiliran setiap minggunya.
Setiap kamar di Pondok Rani diisi dua orang mahasiswi. Kami semua satu angkatan di TPB, Institut Pertanian Bogor. Kamar paling ujung dilantai bawah adalah Isna dari Madiun dan Yenny dari Ponorogo. Kamar disudut dekat kamar mandi dihuni Lia dari
Banyak peristiwa dan kejadian yang aku alami selama tinggal di Pondok Rani. Kadang tertawa, kadang menangis, kadang sedih, kadang gembira mewarnai hari-hari kami. Di Pondok Rani aku juga mengalami banyak hal, yang memberiku banyak hikmah di kemudian hari. Aku merasa menjadi lebih sayang kepada Ibuku setelah aku jauh dari Beliau, karena dulu waktu SMA aku jarang sekali bisa akur dan mengerti ibuku. Dalam pikiranku kala itu ibuku sungguh-sungguh tidak adil padaku. Ibuku lebih menyayangi kakak dan adikku, karena itu aku lebih banyak main keluar dengan teman-temanku. Dan baru setelah aku tinggal di Pondok Rani, jauh dari kampungku, jauh dari ibuku, baru aku menyadari betapa ternyata aku menyayangi ibuku.
Aku juga teringat waktu di Pondok Rani aku suka jahil, terutama dengan mbak Risma, dalam pikiranku waktu itu mbak Risma sangat ‘jaim’ dan sombong. Karena itu aku suka banget jahil. Kalau giliranku sedang mengatur menu makanan, aku tahu mbak Risma alergi ayam. Maka selalu menu yang aku susun bertema ayam. Duh...kebayangkan jahilnya aku. Maafkan aku ya.... Mbak. Dimanapun mbak Risma berada saat ini aku sungguh-sungguh minta maaf akan kejahatanku kala itu. Setelah beranjak dewasa baru aku mengerti, bagaimana kami bisa akrab, saat itu kami baru lulus SMA dan jadi mahasiswi TPB, dengan aroma remaja masih teramat kental mewarnai hari-hari kami. Sementara mbak Risma selain sudah jadi dosen, juga sedang ambil S2. Jarak usia, kedewasaan, pendidikan, dan latar belakang itulah yang menyulitkan kami jadi bisa berteman akrab. Baru aku sadari juga Mbak Risma sungguh-sungguh ‘kakak’ kos yang amat toleran, yang tidak pernah marah walaupun kami berisiknya minta ampun, yang tidak pernah protes kami teriak-teriak disaat mbak Risma ujian. Mbak Risma luar biasa tabah dan tangguh menghadapi kami kancil-kancil yang kurang ajar sekali waktu itu. Sekali lagi maafkan aku ...mbak. Sungguh-sungguh aku minta maaf atas kejahatan yang terkoordinir itu. Manusia berproses, tumbuh, dan berkembang. Begitu pula aku, aku menyadari kekeliruanku, kesalahanku dan kejahilanku. Aku berharap tidak ada kata terlambat untuk minta maaf.
Setelah kenaikan tingkat dari TPB kami kancil-kancil Pondok Rani itu bercerai berai menjemput nasib, dan mimpi masing-masing. Selain banyak yang berubah jurusan, ada juga yang pindah kuliah. Aku termasuk salah satu yang pindah saat itu, selain aku terpaksa masuk di jurusan yang aku tidak suka, aku juga merasa lebih nyaman dekat dengan ibu. Kemudian aku pindah ke Yogya. Apapun yang terjadi dalam hidupku aku percaya karena ulah dan perbuatanku sendiri. Terkadang kejahilan kita di masa lampau terbalas di masa kini. Aku juga percaya bahwa jalan yang terjal, berliku, berbatu, adalah jalan yang menjadikan aku lebih kuat, dan lebih tangguh. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, sagala sesuatu akan terasa indah pada waktunya. Seperti akhirnya aku menyadari bahwa hari-hari di Pondok Rani memberiku banyak hikmah.
Thanks…untuk teman-teman Pondok Rani. Banyak kenangan di Pondok Rani yang membawa perubahan yang lebih baik untukku. Sungguh tak pernah kusangka bakal ketemu lagi. Setelah lebih dari
No comments:
Post a Comment