
Hari Kartini,..... seperti biasa nuansa kebaya ada dimana-mana. Dikantor-kantor, sekolah- sekolah, ada acara peringatan hari Kartini. Ada fashion show, ada merangkai bunga, lomba memasak dll. Apapun wujud perayaannya, aku sungguh -sungguh kagum dengan wanita-wanita Indonesia yang memanfaatkan kesempatan yang ada. Wanita-wanita Indonesia sungguh-sungguh tangguh dan luar biasa. Wanita-wanita Indonesia sungguh hebat.
Tetapi tidak semua wanita-wanita Indonesia beruntung, karena masih banyak sekali wanita-wanita Indonesia yang belum beruntung, terkadang aku juga ikut sedih, dizaman yang sudah demikian hebat dan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada wanita, ternyata masih banyak sekali sahabat, teman dan sodara yang masih teraniaya dan terlecehkan hak-haknya. Masih banyak yang mengalami KDRT. Sungguh baru aku tahu bahwa KDRT tidaklah hanya bersifat fisik saja. Aku sungguh-sungguh turut berdoa agar sahabat, teman dan sodara yang masih terbelenggu hak-haknya, masih teraniaya harga dirinya ini, bisa melewati semuanya.
Aku hanya ingin sekedar berbagi cerita tentang sahabat-sahabatku yang tangguh-tangguh dan bermental baja ini, menurutku mereka juga Kartini-kartini masa kini yang perjuangannya untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya sungguh luar biasa. Aku punya sahabat sebutlah namanya Mbak A. Mbak A adalah wanita hebat menurutku, dia wanita karir, punya jabatan bagus di kantor pemerintah, gaji Ok, fasilitas memadai, Lulusan S2 dari perguruan tinggi ternama di Indonesia. Ibu dua orang anak. Berpenampilan bagus. Walaupun tidak terlalu modis, tapi rapi dan menarik. Mbak A orang yang baik, bertanggung jawab, orangnya adem, tidak emosional, sangat logis dan berdedikasi tinggi. Mbak A punya suami yang keren dan juga punya jabatan tinggi di salah satu Bank pemerintah. Dilihat dari luar mereka keluarga harmonis, mapan, sejahtera. Suami istri berkarir bagus, berekonomi dan status sosial mapan, dengan dua anak yang manis-manis. Hanya satu kata mewakili 'keluarga kecil sejahtera'. Itulah yang aku lihat. Tetapi...tahukah sobat bahwa untuk mencapai semua itu mbak A harus berkorban dan berdarah-darah hatinya setiap waktu. Bagaimana tidak ternyata suami Mbak A, yang hebat itu suka sekali iseng-iseng diluaran. Alias secolek, dua colek dengan wanita lain. Oh...dan sungguh Mbak A mengetahui tabiat buruk suaminya itu. Pertama kali Mbak A tahu, sungguh tak terbayangkan rasanya, Mbak A merasa dikhianati, di bohongi, marah, sakit, sepertinya dunia ambruk seketika. Amarah, rasa sakit, dan tuntutan untuk berpikir logis, bertarung terus setiap saat. Dan yang aku kagumi dari Mbak A, yaitu setelah mengalami hati yang berdarah-darah, jantung yang sering soak, paru-paru kehabisan oksigen, mbak A berani memilih berpikir logis, realistis. dan berani mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Kalau mbak A menggugat suami, suaminya akan di pecat, anak-anak akan susah dan seterusnya, seterusnya.... mbak A lakhirnya memilih mengalah, berkorban, demi anak-anak. Walau mbak A harus sering terlecehkan, terhinakan, dia tetap berjuang, berkorban, mempertahankan rumah tangganya. Jadi keluarga kecil nan sejahtera itu berdiri diatas pondasi hati yang berdarah-darah . Sungguh sampai kapan mbak A bertahan???? Padahal kalau Mbak A memilih bercerai dia juga sanggup menghidupi diri sendiri dan kedua anaknya, dia mempunyai karir dan penghasilan sendiri. Tetapi itulah yang membuat aku salut padanya, dia berkorban seperti itu, karena dia tidak ingin anak-anaknya menderita, dia tidak ingin kedua orang tuanya kecewa.
Aku juga punya sahabat, sebut saja 'Mbak B' dia cantik, langsing, menarik bahkan diusianya yang sudah kepala empat. Mbak B juga hebat, dia Direktur salah satu Bank Swasta ternama di sebuah kota. Mbak B, sungguh hebat, pintar segalanya. Mbak B mempunyai tiga orang anak. Keluarga Mbak B juga terlihat sejahtera , mapan dan harmonis. Tetapi ternyata suami mbak B yang katanya pengusaha itu, lebih banyak menghabiskan uang daripada menghasilkan uang. Sehingga sebenarnya rumah tangga itu bisa tegak karena jerih payah mbak B. Jadi mbak B- lah tulang punggung dan sapi perahan dalam rumah tangga itu. Si suami tenang-tenang saja, karena selalu berdalih kalau mbak B mau bekerja , harus bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sebagai kompensasi mbak B yang telah meninggalkan rumah seharian. Jadi mbak B, bekerja, berkarir hebat bukan karena aktualisasi, tapi karena kebutuhan hidup, karena mbak B HARUS menghidupi suami dan ketiga anaknya. Kenapa Mbak B tidak memilih berpisah dari suami yang tega menjadikan istrinya sapi perahan?? Seperti Mbak A, Mbak B juga bertahan dengan alasan pertama adalah anak-anak.
Terus cerita tentang sahabatku si C, dia juga hebat lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia, punya karir yang bagus. Tetapi sejak menikah si C tidak boleh bekerja, karena anak-anaklah, pokoknya setiap kali si C akan mulai bekerja lagi, selalu saja anak-anaknya yang dijadikan alasan, yang nakal, yang bandel selalu ada saja alasan. Suami si C yang sangat penurut dan takut kepada ibunya selalu saja menuruti kemauan ibunya yang amat curiga kalau si C bekerja jadi selingkuhlah dan sebagainya. Kenapa ibu mertuanya begitu tidak suka si C bekerja, karena ibu mertuanya tidak ingin anak laki-laki kesayangannya terlantar dan tersaingi . Akhirnya si C dengan segala kecerdasan, ketrampilannya harus tenggelam dalam dunia suami dan mertuanya, bahkan dalam kondisi ekonomi yang seadanya. Si C juga tetap bertahan. Semua untuk anak-anaknya.
Terus cerita tentang si D, yang sungguh-sungguh dia harus mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang bersifat fisik. Karena suami Si D sangat ringan tangan dan enteng mulut. Terus cerita si E, temenku yang satu ini memilih jadi single parent karena dia tidak mau dipoligami. Dan masih banyak lagi cerita temen-temenku yang lain, yang belum beruntung, yang masih teraniaya. Bahkan temen-temenku ini semuanya juga perpendidikan tinggi, dari keluarga menengah, yang pada masanya dulu merupakan harapan dan kebanggaan orangtuanya masing-masing. Para orang tua itu bersusah payah menyekolahkan gadis-gadisnya setinggi-tingginya dengan berjuta harapan. Harapan agar memiliki kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera ,lebih bahagia dari orang tuanya. Semua teman-temanku ini berjuang, bertahan, berkorban demi apapun yang mereka yakini kebenarannya, mereka percayai sebagai pilihan terbaik dari semua pilihan yang ada. Walau terkadang hidup tidak seindah impian. Walau harapan jauh dari kenyataan. Walau hidup harus melewati jalan yang berliku, hidup memaksa mereka menempuh bukit terjal dan gunung berbatu. Tetapi yang aku tahu dan aku kagumi pada teman-temanku itu, adalah mereka sungguh-sungguh wanita-wanita tangguh dan berhati baja. Pedihnya kehidupan, ombak kehidupan tidak mampu menenggelamkan mereka. Mereka tegak berdiri melawan, bertahan, berjuang. Emansipasi memang sebuah pilihan. Dan apapun pilihannya semua harus diperjuangkan. Untuk Kartini-kartiniku jangan pernah menyerah.
Tetapi tidak semua wanita-wanita Indonesia beruntung, karena masih banyak sekali wanita-wanita Indonesia yang belum beruntung, terkadang aku juga ikut sedih, dizaman yang sudah demikian hebat dan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada wanita, ternyata masih banyak sekali sahabat, teman dan sodara yang masih teraniaya dan terlecehkan hak-haknya. Masih banyak yang mengalami KDRT. Sungguh baru aku tahu bahwa KDRT tidaklah hanya bersifat fisik saja. Aku sungguh-sungguh turut berdoa agar sahabat, teman dan sodara yang masih terbelenggu hak-haknya, masih teraniaya harga dirinya ini, bisa melewati semuanya.
Aku hanya ingin sekedar berbagi cerita tentang sahabat-sahabatku yang tangguh-tangguh dan bermental baja ini, menurutku mereka juga Kartini-kartini masa kini yang perjuangannya untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya sungguh luar biasa. Aku punya sahabat sebutlah namanya Mbak A. Mbak A adalah wanita hebat menurutku, dia wanita karir, punya jabatan bagus di kantor pemerintah, gaji Ok, fasilitas memadai, Lulusan S2 dari perguruan tinggi ternama di Indonesia. Ibu dua orang anak. Berpenampilan bagus. Walaupun tidak terlalu modis, tapi rapi dan menarik. Mbak A orang yang baik, bertanggung jawab, orangnya adem, tidak emosional, sangat logis dan berdedikasi tinggi. Mbak A punya suami yang keren dan juga punya jabatan tinggi di salah satu Bank pemerintah. Dilihat dari luar mereka keluarga harmonis, mapan, sejahtera. Suami istri berkarir bagus, berekonomi dan status sosial mapan, dengan dua anak yang manis-manis. Hanya satu kata mewakili 'keluarga kecil sejahtera'. Itulah yang aku lihat. Tetapi...tahukah sobat bahwa untuk mencapai semua itu mbak A harus berkorban dan berdarah-darah hatinya setiap waktu. Bagaimana tidak ternyata suami Mbak A, yang hebat itu suka sekali iseng-iseng diluaran. Alias secolek, dua colek dengan wanita lain. Oh...dan sungguh Mbak A mengetahui tabiat buruk suaminya itu. Pertama kali Mbak A tahu, sungguh tak terbayangkan rasanya, Mbak A merasa dikhianati, di bohongi, marah, sakit, sepertinya dunia ambruk seketika. Amarah, rasa sakit, dan tuntutan untuk berpikir logis, bertarung terus setiap saat. Dan yang aku kagumi dari Mbak A, yaitu setelah mengalami hati yang berdarah-darah, jantung yang sering soak, paru-paru kehabisan oksigen, mbak A berani memilih berpikir logis, realistis. dan berani mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Kalau mbak A menggugat suami, suaminya akan di pecat, anak-anak akan susah dan seterusnya, seterusnya.... mbak A lakhirnya memilih mengalah, berkorban, demi anak-anak. Walau mbak A harus sering terlecehkan, terhinakan, dia tetap berjuang, berkorban, mempertahankan rumah tangganya. Jadi keluarga kecil nan sejahtera itu berdiri diatas pondasi hati yang berdarah-darah . Sungguh sampai kapan mbak A bertahan???? Padahal kalau Mbak A memilih bercerai dia juga sanggup menghidupi diri sendiri dan kedua anaknya, dia mempunyai karir dan penghasilan sendiri. Tetapi itulah yang membuat aku salut padanya, dia berkorban seperti itu, karena dia tidak ingin anak-anaknya menderita, dia tidak ingin kedua orang tuanya kecewa.
Aku juga punya sahabat, sebut saja 'Mbak B' dia cantik, langsing, menarik bahkan diusianya yang sudah kepala empat. Mbak B juga hebat, dia Direktur salah satu Bank Swasta ternama di sebuah kota. Mbak B, sungguh hebat, pintar segalanya. Mbak B mempunyai tiga orang anak. Keluarga Mbak B juga terlihat sejahtera , mapan dan harmonis. Tetapi ternyata suami mbak B yang katanya pengusaha itu, lebih banyak menghabiskan uang daripada menghasilkan uang. Sehingga sebenarnya rumah tangga itu bisa tegak karena jerih payah mbak B. Jadi mbak B- lah tulang punggung dan sapi perahan dalam rumah tangga itu. Si suami tenang-tenang saja, karena selalu berdalih kalau mbak B mau bekerja , harus bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Sebagai kompensasi mbak B yang telah meninggalkan rumah seharian. Jadi mbak B, bekerja, berkarir hebat bukan karena aktualisasi, tapi karena kebutuhan hidup, karena mbak B HARUS menghidupi suami dan ketiga anaknya. Kenapa Mbak B tidak memilih berpisah dari suami yang tega menjadikan istrinya sapi perahan?? Seperti Mbak A, Mbak B juga bertahan dengan alasan pertama adalah anak-anak.
Terus cerita tentang sahabatku si C, dia juga hebat lulusan perguruan tinggi ternama di Indonesia, punya karir yang bagus. Tetapi sejak menikah si C tidak boleh bekerja, karena anak-anaklah, pokoknya setiap kali si C akan mulai bekerja lagi, selalu saja anak-anaknya yang dijadikan alasan, yang nakal, yang bandel selalu ada saja alasan. Suami si C yang sangat penurut dan takut kepada ibunya selalu saja menuruti kemauan ibunya yang amat curiga kalau si C bekerja jadi selingkuhlah dan sebagainya. Kenapa ibu mertuanya begitu tidak suka si C bekerja, karena ibu mertuanya tidak ingin anak laki-laki kesayangannya terlantar dan tersaingi . Akhirnya si C dengan segala kecerdasan, ketrampilannya harus tenggelam dalam dunia suami dan mertuanya, bahkan dalam kondisi ekonomi yang seadanya. Si C juga tetap bertahan. Semua untuk anak-anaknya.
Terus cerita tentang si D, yang sungguh-sungguh dia harus mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang bersifat fisik. Karena suami Si D sangat ringan tangan dan enteng mulut. Terus cerita si E, temenku yang satu ini memilih jadi single parent karena dia tidak mau dipoligami. Dan masih banyak lagi cerita temen-temenku yang lain, yang belum beruntung, yang masih teraniaya. Bahkan temen-temenku ini semuanya juga perpendidikan tinggi, dari keluarga menengah, yang pada masanya dulu merupakan harapan dan kebanggaan orangtuanya masing-masing. Para orang tua itu bersusah payah menyekolahkan gadis-gadisnya setinggi-tingginya dengan berjuta harapan. Harapan agar memiliki kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera ,lebih bahagia dari orang tuanya. Semua teman-temanku ini berjuang, bertahan, berkorban demi apapun yang mereka yakini kebenarannya, mereka percayai sebagai pilihan terbaik dari semua pilihan yang ada. Walau terkadang hidup tidak seindah impian. Walau harapan jauh dari kenyataan. Walau hidup harus melewati jalan yang berliku, hidup memaksa mereka menempuh bukit terjal dan gunung berbatu. Tetapi yang aku tahu dan aku kagumi pada teman-temanku itu, adalah mereka sungguh-sungguh wanita-wanita tangguh dan berhati baja. Pedihnya kehidupan, ombak kehidupan tidak mampu menenggelamkan mereka. Mereka tegak berdiri melawan, bertahan, berjuang. Emansipasi memang sebuah pilihan. Dan apapun pilihannya semua harus diperjuangkan. Untuk Kartini-kartiniku jangan pernah menyerah.
No comments:
Post a Comment