Thursday, April 30, 2009

Serahkan Pada TanganNya


Hari ini aku menerima curhat dari sahabatku. Panjaaang dan lama. Sampai-sampai aku sakit kepala, sampai-sampai anak-anakku jumpalitan membuat seisi rumah porak poranda. Meraka begitu heboh, ceria bersemangat karena melihat ibunya asyik menerima telpon. Mereka pikir asyiknya... ibu tidak ngomel, enaknya... ibu tidak marah-marah. Damainya.. ...ibu tidak teriak-teriak melihat segala mainan berserakan, bantal-bantal berhamburan, kartu-kartu ada dimana-mana. Seisi rumah seperti habis gempa, dan kedua anakku berlarian kesana kemari dengan bahagianya. Sedangkan anak perempuanku yang sudah mulai ABG makin asyik melototi televisi tanpa inget kewajiban belajar. Semuanya bebas. Ibu tidak marah. Ibu sedang terima telpon. Ayo..ayo bermain didalam rumah sepuasnya.

Tentu saja aku tidak enak kalau harus interupsi sejenak dari telpon temanku. Mengawasi anak-anakku tidak mungkin hanya interupsi sejenak. Dengan mereka sama saja, telpon lagi nanti malam kalau anak-anak sudah tidur. Yah hari ini hari kebebasan untuk anak-anakku, aku hanya mampu mengawasi sambil mendelik, mengerut, cemberut. Buat anak-anakku itu semua masih lampu kuning, jadi masih ada kesempatan untuk ngebut he..he..he.

Hari ini sobatku terkasih sedang curhat kepadaku tentang segala macam pengorbanan, penderitaan dan perjuangannya sebagai perempuan yang belum berjodoh. Aduh...sungguh-sungguh aku tak menyangka dia akan sesedih itu. Padahal selama ini aku selalu merasa temanku itu hebat, canggih luar biasa. Pokoknya mengagumkan. Sampai aku iri-iri, dan berkhayal menjadi seperti dirinya. Betapa tidak dia wanita mapan, sukses dan hebat di Jakarta. Punya jabatan bagus, karir mapan serta gaji yang membuatku takjub bukan kepalang. Dalam usianya yang 35 tahun, dia mapan sekali dalam hal finansial, makmur, sejahtera sentosa gemah ripah loh jinawi. Aku sering terkagum-kagum melihatnya seperti artis yang pontang-panting, bolak-balik ke luar negeri, dengan segala atribut yang serba bermerek, tercanggih, terkini, terpercaya. Siapa sangka ternyata dia tersiksa dengan keadaannya, yang belum menikah. Aku pikir dia melajang karena pilihannya, karena dia tidak pingin menikah, tidak mau repot mngurusi anak-anak. Dan selama ini dia selalu berkesan masih ada yang kurang, masih ada yang belum beres, masih ada yang harus dikerjakan sehingga belum kepikiran untuk menikah. Selama ini dia juga selalu adem ayem, santai-santai saja kalau kita ketemu ketika lebaran saat sama-sama pulang kampung. Memang benar kata pepatah “ Wong kuwi sawang sinawang”. Alias rumput tetangga selalu lebih hijau.

Menurutku dan aku sangat yakin bahwa yang namanya rizki, mati, hidup dan jodoh itu hak mutlak Allah. Sebagai manusia kita cuma bisa berusaha, usaha, usaha selalu usaha. Hasil itu milik Allah. “Apa kamu pikir aku nda usaha, Ri???” temanku meradang. “Oalaah Ri, Ri… segala usaha dah ta coba. Dari yang masuk akal sampe yang tidak masuk akal. Dari mandi kembang tujuh rupa dari air tujuh sumur sudah tak coba. Segala resep di majalah mengenai seni berkencan, resep ‘sukses membawa jantung hati ke pelaminan’, resep menaklukan lawan jenis sudah aku praktekan. Untuk menjadi pribadi yang tidak pemilihpun aku coba. Sampai-sampai siapa saja yang mau mengajakku kencan tak ada satupun yang kutolak, bahkan aku dengan semangat juang dan pantang menyerah, dengan gagah berani yang mengajak kencan duluan. Apa aku mesti makan kemenyan? Segala resep telah aku coba. Aku juga sholat tahajud, sholat hajat, sholat dhuha. Segala macam doa-doa, dzikir aku kerjakan. Apa yang salah padaku to, Ri? Kenapa dalam urusan cinta aku tidak juga beruntung.” Kali ini temenku yang sudah termehek-mehek ini berbagi kisah perjalanannya mengejar cinta. Katanya, “ Bayangkan cintaku sering sekali salah orang, salah tempat maupun salah waktu. Pernah aku memendam cinta begitu dalam dan tulus kepada seseorang yang ternyata malah tidak mencintaiku. Atau ada seseorang yang begitu gigih mencintaiku, dan aku tidak mencintainya sama sekali. Yah… cinta yang salah sasaran pokoknya. Ada juga cinta yang tepat mengenai sasaran. Panah amor itu tertancap pada hati yang tepat, waktu yang baik, tetapi tidak terbina dengan baik. Mungkin kurang komunikasi, kurang pengertian, kurang kerjasama atau kurang cinta dari kedua belah pihak, akhirnya bubar jalan. Ada yang setelah bubar hubungan pertemanan masih berhubungan baik, tetapi ada juga yang setelah bubar jadi saling melukai bahkan jadi musuh. Dalam kisah cinta aku belum beruntung, bahkan sampai usiaku yang menginjak 35 tahun ini aku masih saja salah dalam urusan cinta. Kata orang cinta bisa menjadikan kita matang dan dewasa. Tetapi setelah aku menjadi sangat-sangat matang dalam banyak hal inipun tidak menjamin lancarnya urusan cinta. “

Tentu saja aku tidak tahu dimana yang salah atau yang benar pada temenku, lha temenku itu juga berpenampilan menarik, anggun dan hebat. Baik hati, lembut tutur kata, sopan, pokoknya lulus terbaik di sekolah kepribadian deh. Kalau sudah begini...yah hanya Tuhan yang tahu bukan? Tuhan pasti punya rencana yang terbaik untuknya. “Menurutku yang penting kamu berbahagia. Apa dijamin menikah itu lebih berbahagia? Ada yang menikah tidak berbahagia, ada yang melajang justru berbahagia. Lihat sekarang banyak wanita memilih melajang. Dan mereka berbahagia, sukses, berkarir cemerlang.” Aku berkata sungguh-sungguh tanpa berniat menghibur saja. “Ya jelas aku tidak berbahagia, wong aku pingin kawin kok!” Sahut temenku ketus.

Semua orang berbahagia kalau semua keinginannya terpenuhi kan? Kalau tidak terpenuhi jelas kecewa dan tidak berbahagia. Tapi dalam hidup ini tidak mungkin kita bisa mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Yang jelas aku yakin Tuhan itu maha adil. Tuhan memberi kita kelebihan disatu sisi tapi juga kekurangan disisi yang lain. Tidak ada manusia yang sempurna. Juga tidak mungkin ada bahagia yang sempurna. Sungguh paling sulit menerima kenyataan apa yang kita inginkan tidak terwujud. Aku juga belajar terus untuk selalu bisa menerima kenyataan. Itu butuh proses dan waktu. Tapi aku percaya sesulit apapun itu kita harus bisa. .

Aku juga belajar untuk bisa menerima kenyataan pahit dalam hidupku dengan lapang dada, dengan ikhlas. Karena kalau tidak kita coba untuk pasrah bahwa itu adalah salah satu ketetapanNya akan berat banget rasanya. Aku pernah mengalami saat-saat yang berat banget dalam hidupku, rasanya sampai dunia kupikul sendiri. Gimana nda berat ya? Apa aku mampu??? Tidak. Ada temanku yang sangat bijaksana yang mengajariku bahwa ada saatnya kita harus pasrah, karena kita cuma bisa berusaha. Hasil itu punya Allah. Serahkanlah semua pada tanganNya, karena tanganmu sudah tak mampu. Ternyata lebih enteng setelah dicoba. Aku juga belajar untuk mengerti bahwa hidup itu fluktuaktif. Kadang naik kadang turun. Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Setiap tetes kebahagian akan terganti dengan kesedihan, begitu juga setiap kesedihan pasti akan berganti dengan riak-riak kebahagian. Musim selalu berganti, roda terus berputar. Aku juga belajar dan terus belajar, terutama disaat gelombang dahsyat menerpaku, saat aku terapung-apung dalam lautan lepas, tiada pegangan, tiada tangan menolongku, aku serahkan kembali semua padaNya. Aku yakin hanya Dia yang mampu menolong, hanya tanganNya yang bisa menolongku. Kembalikan semua padaNya Dia yang menciptakan kita, Dia pula yang akan mengurus kita. Aku yakin Dia tidak akan pernah sekalipun menelantarkan kita.

Hidup itukan terdiri atas potongan-potongan puzzle, setiap potongan seakan berserakan tak terbaca, tetapi sebetulnya potongan-potongan itu adalah bagian-bagian hidup yang harus kita lewati. Sampai akhirnya nanti potongan-potongan puzzle itu akan tertata indah. Itulah gambar hidup kita. Yang penting kita harus yakin bahwa Allah itu tidak pernah keliru dalam menentukan rizki, jodoh dan hidup mati kita. Hanya kita yang terkadang tidak sabar. So… sobatku terkasih. Ada saatnya tangan kita sudah tak mampu, tangan kita terbatas. Serahkan segalanya pada TanganNya. Tangan Yang Maha Besar, Tangan Yang Maha Agung dan Tangan Yang Maha Kuasa.

Sahabatku…terkasih, tercinta aku hanya bisa membantumu lewat setulus-tulusnya doa dalam urusan ini. Karena rejeki, jodoh, hidup dan mati adalah hak mutlak Allah. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Selanjutnya serahkan padaNya.

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya adalah diciptakanNya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu mendapat ketentraman hati dan dijadikanNya kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaranNya. Bagi orang-orang yang berpikir (Ar-Rum : 21)"


No comments: