“Biarlah tapak-tapakku melintasi padang gersang, menembus bukit sunyi. Karena aku yakin setinggi apapun gunung harus kudaki, seterjal apapun jurang yang kulalui akhirnya akan kutemui cinta yang sejati “
Aku tersenyum saat kubaca bait-bait puisi diantara foto-fotoku. Foto-foto itu berisi petualanganku ketika aku masih suka-sukanya naik gunung. Foto saat aku bersorak riang di puncak Gunung Merbabu, saat begitu bangga berhasil duduk di tugu Argo Dumillah di Puncak G Lawu, atau saat aku tersenyum bahagia setelah berletih-letih mencapai puncak G Sindoro dan lain-lain. Banyak foto-fotoku saat-saat aku naik gunung. Semua memberikan potongan-potongan seraut wajah yang bahagia, ceria, gembira tanpa beban. Aku ingat itulah masa-masa aku SMA dan awal-awal kuliah. Foto-foto yang menampilkan seraut wajah yang bersemangat.
Waktu itu aku memang lagi hobi-hobinya naik gunung. Aku ikut Mapala. Dan tentu saja tiada hari libur tanpa dilewati di gunung. Aku yang tomboy, cuek, kurus, badung komplet deh, teramat riang diantara teman-teman yang mayoritas cowok. Tapi sungguh aku senang sekali saat itu. Kami semua kompak dan punya solidaritas yang tinggi. Kami bersahabat tanpa tendensi apapun, saling menerima kekurangan tanpa mengeluh. Aku ingat waktu itu aku yang kurus sering tidak dipercaya bisa sampai ke puncak. Tetapi aku juga terkenal kepala batu, pokoknya harus sampai puncak. Alhasil teman-teman dengan setia menarik dan mendorongku. Begitu hampir sampai puncak, aku selalu diberi kesempatan pertama untuk menjejakkan kakiku di puncak dan akupun berteriak-teriak kegirangan menjadi orang pertama dalam rombongan yang menjejakkan kaki dipuncak gunung. Walau harus merepotkan teman-temanku. Setelah segala prosesi perayaan selesai, aku juga dengan rakusnya menyikat bekal teman-teman. Tanpa ragu-ragu apalagi malu-malu.
Terkadang kalau kondisi keuangan lagi menipis Kami tidak ke gunung, tapi sekedar jalan-jalan ke pantai, ke Kaliurang atau ke desa-desa di daerah Pakem. Yang pasti asyik dan bikin lapar. Aku ingat masa-masa itu Kami selalu kelaparan dan apapun makanannya semua terasa enak. Sampai-sampai Kami menamakan diri pasukan ” Sapu jagad” karena setiap ada makanan selalu licin tandas. Apapun makanannya habis semua, dari Nasi Gudeg, Nasi Padang, Nasi Pecel, ikan bakar, Getuk, Rujak, Indomie Rebus semua tak bersisa bahkan kadang sampai rebutan. Yang paling Kami tunggu-tunggu saat itu kalau salah satu dari teman Kami yang saudaranya punya hajatan. Aduh... asyik sekali. Kami datang dengan semangat juang tinggi hadir di hajatan, demi kecukupan gizi. Yah itulah kelompok anak-anak gunung atau Kelompok Anak Rimba
Di kampusku juga ada kelompok kaum bangsawan. elit, cendekiawan. Aku menamakan kelompok ini sebagai Kelompok Priyayi. Kelompok ini tentu saja tidak rakus seperti kelompok kaum rimba, mereka kaum priyayi yang makan enak di restoran dan kemana-mana bawa mobil sedan. Kegiatan meraka juga berbeda dengan kami kaum rimba, meraka berolah raga dengan berenang dihotel-hotel, main tennis, atau jadi anggota fitness center. Mereka juga pelanggan salon-salon kecantikan elit dan dokter-dokter kulit hebat. Wah aku dulu sering merem melek menyaksikan kaum priyayi ini. Ada juga beberapa kaum priyayi yang dekat denganku. Tentu saja aku tidak bisa sebebas merdeka seperti dengan anak-anak kaum rimba. Dengan kaum priyayi sopan santun, tata krama wajib diperhatikan Kasihan mereka kalau terbawa urakanku. Biasanya dengan kaum priyayi ini acaraku lebih sering sekedar jalan-jalan cari buku, nonton film, atau belanja. Biar tomboy, cuek, urakan aku juga masih mengemari fashion, kesukaanku pada fashion ini yang mengakrabkanku dengan kaum priyayi. Tentu saja aku yang bermodal tipis ini mesti pinter-pinter memadupadankan baju. Atau mesti bergerilya dari penjahit ke penjahit sampai menemukan penjahit yang cocok dengan seleraku, hasil jahitan bagus serta harga terjangkau. Ternyata kaum priyayi ini respek juga dengan seleraku. Karena pada acara tertentu aku juga berusaha tampil gaya meski dengan modal cekak. Dan kaum priyayi suka melirik juga penampilanku. Bahkan ikut menyontek bajuku.
Terus ada juga Kelompok Ibu-Ibu Dharma Wanita, mereka marah-marah tapi mesem-mesem kalau aku panggil begitu. Mereka itu kelompok yang targetnya para Taruna Angkatan Udara. Mereka semangat sekali kalau ada acara pesta-pesta akhir pekan di Komplek Angkatan Udara. Cara mereka berdandan nyaris seragam , sama dengan pasangannya yang berseragam biru tua. Kalau ada acara pesta, ibu-ibu dharma wanita ini, sibuuuuknya minta ampun, dari persiapan baju, luluran, pesan salon dan segalanya. Masalah baju paling heboh tentu saja, segala cara dilakukan, yang dompet tebal dengan gampang belanja kemana-mana, yang dompet tipis tetap berusaha, dari berusaha pinjam, beli baru walaupun harus ngutang tidak masalah, yang penting…jadi ibu jendral. Banyak sahabatku berasal dari ibu-ibu dharma wanita ini, aku juga dengan senang hati membantu mereka bersiap-siap untuk pesta. Kalau jemputan datang aku melepas mereka seperti ibu kos melepas anak-anaknya.
Mereka semua mewarnai hari-hariku. Aku bahagia bisa dekat dengan berbagai kalangan. Menjalin persahabatan tanpa membedakan kelompok-kelompok, walau begitu kelompok anak rimba adalah rumahku. Aku berusaha mengambil sisi baik dari semua teman-temanku. Aku belajar banyak dari mereka. Akhir-akhir masa kuliahku dari foto-fotoku, aku mendapati diriku lebih feminim, mengganti sepatu ketsku dengan sepatu model pumps, menganti t-shirtku dengan blouse, mulai pakai lipstik dan bedak. Wow..ternyata pengaruh kaum priyayi dan ibu-ibu dharma wanita ini banyak mengubahku. Aku juga mulai jarang naik gunung, keluyuran, dan yang tak pernah kusadari aku juga jadi menjaga sikap. Lebih menjaga ekspresi. Aku tidak pernah sadar itu, yang jelas aku jadi makin tertutup dan susah mengekspresikan perasaan. Aku rindu teman-teman rimbaku, ternyata bersama mereka aku bisa melepaskan bebanku. Tapi aku juga berterima kasih pada ibu-ibu dharma wanita dan kaum priyayi. Mereka mengajariku untuk lebih tahu tata krama, dan etika.
Kemanakah sahabat-sahabatku itu??? Kami bercerai berai begitu sejak mulai KKN, karena kami harus berangkat dengan beda teman-teman lain fakultas, lain angkatan dan bercerai berai dalam kabupaten atau kecamatan yang berbeda. Diantara teman-teman KKN kutemukan sahabat-sahabat baru yang lebih heterogen lagi. Dari kelompok priyayi, kelompok rimba, kelompok ibu-ibu dharma wanita, kaum feminis sampai kaum ilmuwan juga kudapati. Kami ternyata malah berteman lebih intens walaupun kenal dalam waktu singkat. Mungkin karena kami harus menjadi satu keluarga yang mau tidak mau harus beradaptasi. Aku belajar untuk lebih mengenal karakter teman-teman lebih mendalam. Karena setelah aku tahu lebih dalam, ternyata apa yang nampak diluar itu tidak selalu sama dengan yang sebenarnya. Aku punya teman yang penampilannya macho sekali, perut six pack, rajin fitnes, segala atributnya berkesan jantan, tetapi aku hampir mati tercekik menahan tawa ketika tahu bahwa teman macho-ku ini ternyata sangat takut alias phobia pada kupu-kupu. Ya ampun...kupu-kupu yang indah, gemulai itu sanggup membuatnya meringkuk-ringkuk dibawah meja saking takutnya. Atau temanku yang luar biasa pendiam seperti batu ternyata bisa merepet seperti petasan cabe rawit ketika tersinggung. Hebatnya biar terdiri dari berbagai macam ragam karakter manusia kita semua bisa kompak, bersahabat bisa menerima kekeurangan masing-masing. Kalau akhirnya kamu harus berpisah lagi, karena perjalanan hidup masing-masing menghendaki begitu. Semua datang dan pergi, silih berganti. Meninggalkan begitu banyak cerita yang manis, mengesankan.
Nasib orang tidak pernah ada yang tahu, begitu juga nasib kami, begitu lulus kami lebih tercerai berai lagi. Ada yang mendarat empuk menjadi nyonya dr. X, jadi nyonya kapten Y atau jadi nyonya Mr Z, banyak juga yang dengan semangat emansipasi RA. Kartini memutuskan berkarir cemerlang dulu baru berpikir menjadi nyonya. Banyak juga karena belum dapat gandengan mau tidak mau cari kerja dulu sembari cari suami. Tetapi ada juga yang apes tidak dapat pekerjaan, harus menganggur berlama-lama, dan gandengan juga belum ketemu. Nasib tidak bisa ditentukan dengan cemerlang otak maupun wajah yang cemerlang. Ada temanku yang dari dulu terkenal berotak encer dengan Indeks Prestasi diatas 3, punya wajah ayu priyayi dan perawakan langsing, luwes seperti penari keraton, ternyata belum juga dapat pekerjaan dan juga gandengan. Ada juga yang berwajah serta penampilan sederhana juga otak yang sedang-sedang saja menjelma jadi wanita sukses berkarir cemerlang, Bahkan ada temanku dari kelompok rimba abadi, berakhir jadi istri dan ibu yang sangat kompeten mengurus anak-anaknya. Nasib memang seperti roda berputar kadang diatas kadang dibawah. Aku juga mengalami putaran roda-roda nasib yang tak kunjung mereda, setelah hampir dilanda tragedi krisis percaya diri yang dahsyat karena kelamaan menganggur, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sangat aku syukuri, aku nikmati, dan mengembalikan hari-hari indah dalam hidupku. Walaupun tidak bergaji dahsyat tapi bisa mencukupi kegemaranku akan fashion dan jalan-jalan. Dan sekian lama keluyuran kesana-sini, muter-muter kemana-mana akhirnya kutemukan gandengan juga yang sekarang dengan sukses membuatku jadi ibu beranak tiga.
Dari perjalanan hidupku yang kadang tak tentu arah dan angin ini aku juga punya sahabat yang menyertaiku sejak semasa kuliah, mereka kukenal sambung menyambung tanpa aku sadari. Kami bersahabat terus bergulung-gulung dalam menghadapi gelombang hidup yang kadang naik kadang turun. Kami saling mendukung, membantu. Menjadi suporter satu sama lain. Persahabatan kami lintas umur, lintas kampus, lintas almamater dan lintas daerah. Tetapi persahabatan kami tetap intens dalam kondisi apapun, dalam jarak jauh maupun lokal. Persahabatan dan kedekatan kami bermula karena kami bernaung dalam horoskop yang sama. Kami berada dalam naungan rasi bintang Aries. Mungkin karena merasa berkarakter sama kami menjadi langsung dekat satu sama lain. Kami merasa wanita-wanita Aries, adalah orang-orang yang keras kepala, suka melawan arus, impulsive, moody, jutek, ketus dan yang terdahsyat suka dibilang berlidah tajam. Yah berlidah tajam sebagai ekspresi kejujuran dan keterus-terangan kami, itulah dalih kami dalam membela diri. Selain kekurangannya itu kami merasa orang-orang Aries ulet, pantang menyerah, optimis, dan setia kawan. Kami juga merasa orang-orang Aries hidupnya tidak pernah mudah. Banyak rintangan dan kendala yang harus kami lewati. Mungkin karena semua ini kami jadi bersahabat.
Bagiku sahabat adalah harta yang tak akan terganti. Aku tidak melihat dari kalangan, jenis atau apapun asal sahabatku. Persahabatan tidak pernah mengenal garis dan batas. Persahabatan akan selalu mampu melewati dimensi apapun, mampu merentang jarak dan waktu. Dalam persahabatan tersimpan segala kemurnian, keindahan kasih dan sayang. Dalam persahabatan ada saatnya menerima ada pula saatnya memberi. Seperti sebuah lagu "Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu " Semoga dalam perjalanan hidupku, aku juga memberi manfaat bagi sahabat-sahabatku. Yang jelas aku menyimpan kasih dan cinta untuk sahabat-sahabatku.
Special untuk sahabatku yang lama menghilang: Novita (Mbak Ita) dari Bojonegoro, Jatim & I Made Ayu Santi (Santi) dari Jakarta dimanapun kamu berada aku menyimpan kasih dan sayang dalam hati. Thanks atas hari-hari indah yang telah kamu berikan padaku.
Aku tersenyum saat kubaca bait-bait puisi diantara foto-fotoku. Foto-foto itu berisi petualanganku ketika aku masih suka-sukanya naik gunung. Foto saat aku bersorak riang di puncak Gunung Merbabu, saat begitu bangga berhasil duduk di tugu Argo Dumillah di Puncak G Lawu, atau saat aku tersenyum bahagia setelah berletih-letih mencapai puncak G Sindoro dan lain-lain. Banyak foto-fotoku saat-saat aku naik gunung. Semua memberikan potongan-potongan seraut wajah yang bahagia, ceria, gembira tanpa beban. Aku ingat itulah masa-masa aku SMA dan awal-awal kuliah. Foto-foto yang menampilkan seraut wajah yang bersemangat.
Waktu itu aku memang lagi hobi-hobinya naik gunung. Aku ikut Mapala. Dan tentu saja tiada hari libur tanpa dilewati di gunung. Aku yang tomboy, cuek, kurus, badung komplet deh, teramat riang diantara teman-teman yang mayoritas cowok. Tapi sungguh aku senang sekali saat itu. Kami semua kompak dan punya solidaritas yang tinggi. Kami bersahabat tanpa tendensi apapun, saling menerima kekurangan tanpa mengeluh. Aku ingat waktu itu aku yang kurus sering tidak dipercaya bisa sampai ke puncak. Tetapi aku juga terkenal kepala batu, pokoknya harus sampai puncak. Alhasil teman-teman dengan setia menarik dan mendorongku. Begitu hampir sampai puncak, aku selalu diberi kesempatan pertama untuk menjejakkan kakiku di puncak dan akupun berteriak-teriak kegirangan menjadi orang pertama dalam rombongan yang menjejakkan kaki dipuncak gunung. Walau harus merepotkan teman-temanku. Setelah segala prosesi perayaan selesai, aku juga dengan rakusnya menyikat bekal teman-teman. Tanpa ragu-ragu apalagi malu-malu.
Terkadang kalau kondisi keuangan lagi menipis Kami tidak ke gunung, tapi sekedar jalan-jalan ke pantai, ke Kaliurang atau ke desa-desa di daerah Pakem. Yang pasti asyik dan bikin lapar. Aku ingat masa-masa itu Kami selalu kelaparan dan apapun makanannya semua terasa enak. Sampai-sampai Kami menamakan diri pasukan ” Sapu jagad” karena setiap ada makanan selalu licin tandas. Apapun makanannya habis semua, dari Nasi Gudeg, Nasi Padang, Nasi Pecel, ikan bakar, Getuk, Rujak, Indomie Rebus semua tak bersisa bahkan kadang sampai rebutan. Yang paling Kami tunggu-tunggu saat itu kalau salah satu dari teman Kami yang saudaranya punya hajatan. Aduh... asyik sekali. Kami datang dengan semangat juang tinggi hadir di hajatan, demi kecukupan gizi. Yah itulah kelompok anak-anak gunung atau Kelompok Anak Rimba
Di kampusku juga ada kelompok kaum bangsawan. elit, cendekiawan. Aku menamakan kelompok ini sebagai Kelompok Priyayi. Kelompok ini tentu saja tidak rakus seperti kelompok kaum rimba, mereka kaum priyayi yang makan enak di restoran dan kemana-mana bawa mobil sedan. Kegiatan meraka juga berbeda dengan kami kaum rimba, meraka berolah raga dengan berenang dihotel-hotel, main tennis, atau jadi anggota fitness center. Mereka juga pelanggan salon-salon kecantikan elit dan dokter-dokter kulit hebat. Wah aku dulu sering merem melek menyaksikan kaum priyayi ini. Ada juga beberapa kaum priyayi yang dekat denganku. Tentu saja aku tidak bisa sebebas merdeka seperti dengan anak-anak kaum rimba. Dengan kaum priyayi sopan santun, tata krama wajib diperhatikan Kasihan mereka kalau terbawa urakanku. Biasanya dengan kaum priyayi ini acaraku lebih sering sekedar jalan-jalan cari buku, nonton film, atau belanja. Biar tomboy, cuek, urakan aku juga masih mengemari fashion, kesukaanku pada fashion ini yang mengakrabkanku dengan kaum priyayi. Tentu saja aku yang bermodal tipis ini mesti pinter-pinter memadupadankan baju. Atau mesti bergerilya dari penjahit ke penjahit sampai menemukan penjahit yang cocok dengan seleraku, hasil jahitan bagus serta harga terjangkau. Ternyata kaum priyayi ini respek juga dengan seleraku. Karena pada acara tertentu aku juga berusaha tampil gaya meski dengan modal cekak. Dan kaum priyayi suka melirik juga penampilanku. Bahkan ikut menyontek bajuku.
Terus ada juga Kelompok Ibu-Ibu Dharma Wanita, mereka marah-marah tapi mesem-mesem kalau aku panggil begitu. Mereka itu kelompok yang targetnya para Taruna Angkatan Udara. Mereka semangat sekali kalau ada acara pesta-pesta akhir pekan di Komplek Angkatan Udara. Cara mereka berdandan nyaris seragam , sama dengan pasangannya yang berseragam biru tua. Kalau ada acara pesta, ibu-ibu dharma wanita ini, sibuuuuknya minta ampun, dari persiapan baju, luluran, pesan salon dan segalanya. Masalah baju paling heboh tentu saja, segala cara dilakukan, yang dompet tebal dengan gampang belanja kemana-mana, yang dompet tipis tetap berusaha, dari berusaha pinjam, beli baru walaupun harus ngutang tidak masalah, yang penting…jadi ibu jendral. Banyak sahabatku berasal dari ibu-ibu dharma wanita ini, aku juga dengan senang hati membantu mereka bersiap-siap untuk pesta. Kalau jemputan datang aku melepas mereka seperti ibu kos melepas anak-anaknya.
Mereka semua mewarnai hari-hariku. Aku bahagia bisa dekat dengan berbagai kalangan. Menjalin persahabatan tanpa membedakan kelompok-kelompok, walau begitu kelompok anak rimba adalah rumahku. Aku berusaha mengambil sisi baik dari semua teman-temanku. Aku belajar banyak dari mereka. Akhir-akhir masa kuliahku dari foto-fotoku, aku mendapati diriku lebih feminim, mengganti sepatu ketsku dengan sepatu model pumps, menganti t-shirtku dengan blouse, mulai pakai lipstik dan bedak. Wow..ternyata pengaruh kaum priyayi dan ibu-ibu dharma wanita ini banyak mengubahku. Aku juga mulai jarang naik gunung, keluyuran, dan yang tak pernah kusadari aku juga jadi menjaga sikap. Lebih menjaga ekspresi. Aku tidak pernah sadar itu, yang jelas aku jadi makin tertutup dan susah mengekspresikan perasaan. Aku rindu teman-teman rimbaku, ternyata bersama mereka aku bisa melepaskan bebanku. Tapi aku juga berterima kasih pada ibu-ibu dharma wanita dan kaum priyayi. Mereka mengajariku untuk lebih tahu tata krama, dan etika.
Kemanakah sahabat-sahabatku itu??? Kami bercerai berai begitu sejak mulai KKN, karena kami harus berangkat dengan beda teman-teman lain fakultas, lain angkatan dan bercerai berai dalam kabupaten atau kecamatan yang berbeda. Diantara teman-teman KKN kutemukan sahabat-sahabat baru yang lebih heterogen lagi. Dari kelompok priyayi, kelompok rimba, kelompok ibu-ibu dharma wanita, kaum feminis sampai kaum ilmuwan juga kudapati. Kami ternyata malah berteman lebih intens walaupun kenal dalam waktu singkat. Mungkin karena kami harus menjadi satu keluarga yang mau tidak mau harus beradaptasi. Aku belajar untuk lebih mengenal karakter teman-teman lebih mendalam. Karena setelah aku tahu lebih dalam, ternyata apa yang nampak diluar itu tidak selalu sama dengan yang sebenarnya. Aku punya teman yang penampilannya macho sekali, perut six pack, rajin fitnes, segala atributnya berkesan jantan, tetapi aku hampir mati tercekik menahan tawa ketika tahu bahwa teman macho-ku ini ternyata sangat takut alias phobia pada kupu-kupu. Ya ampun...kupu-kupu yang indah, gemulai itu sanggup membuatnya meringkuk-ringkuk dibawah meja saking takutnya. Atau temanku yang luar biasa pendiam seperti batu ternyata bisa merepet seperti petasan cabe rawit ketika tersinggung. Hebatnya biar terdiri dari berbagai macam ragam karakter manusia kita semua bisa kompak, bersahabat bisa menerima kekeurangan masing-masing. Kalau akhirnya kamu harus berpisah lagi, karena perjalanan hidup masing-masing menghendaki begitu. Semua datang dan pergi, silih berganti. Meninggalkan begitu banyak cerita yang manis, mengesankan.
Nasib orang tidak pernah ada yang tahu, begitu juga nasib kami, begitu lulus kami lebih tercerai berai lagi. Ada yang mendarat empuk menjadi nyonya dr. X, jadi nyonya kapten Y atau jadi nyonya Mr Z, banyak juga yang dengan semangat emansipasi RA. Kartini memutuskan berkarir cemerlang dulu baru berpikir menjadi nyonya. Banyak juga karena belum dapat gandengan mau tidak mau cari kerja dulu sembari cari suami. Tetapi ada juga yang apes tidak dapat pekerjaan, harus menganggur berlama-lama, dan gandengan juga belum ketemu. Nasib tidak bisa ditentukan dengan cemerlang otak maupun wajah yang cemerlang. Ada temanku yang dari dulu terkenal berotak encer dengan Indeks Prestasi diatas 3, punya wajah ayu priyayi dan perawakan langsing, luwes seperti penari keraton, ternyata belum juga dapat pekerjaan dan juga gandengan. Ada juga yang berwajah serta penampilan sederhana juga otak yang sedang-sedang saja menjelma jadi wanita sukses berkarir cemerlang, Bahkan ada temanku dari kelompok rimba abadi, berakhir jadi istri dan ibu yang sangat kompeten mengurus anak-anaknya. Nasib memang seperti roda berputar kadang diatas kadang dibawah. Aku juga mengalami putaran roda-roda nasib yang tak kunjung mereda, setelah hampir dilanda tragedi krisis percaya diri yang dahsyat karena kelamaan menganggur, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sangat aku syukuri, aku nikmati, dan mengembalikan hari-hari indah dalam hidupku. Walaupun tidak bergaji dahsyat tapi bisa mencukupi kegemaranku akan fashion dan jalan-jalan. Dan sekian lama keluyuran kesana-sini, muter-muter kemana-mana akhirnya kutemukan gandengan juga yang sekarang dengan sukses membuatku jadi ibu beranak tiga.
Dari perjalanan hidupku yang kadang tak tentu arah dan angin ini aku juga punya sahabat yang menyertaiku sejak semasa kuliah, mereka kukenal sambung menyambung tanpa aku sadari. Kami bersahabat terus bergulung-gulung dalam menghadapi gelombang hidup yang kadang naik kadang turun. Kami saling mendukung, membantu. Menjadi suporter satu sama lain. Persahabatan kami lintas umur, lintas kampus, lintas almamater dan lintas daerah. Tetapi persahabatan kami tetap intens dalam kondisi apapun, dalam jarak jauh maupun lokal. Persahabatan dan kedekatan kami bermula karena kami bernaung dalam horoskop yang sama. Kami berada dalam naungan rasi bintang Aries. Mungkin karena merasa berkarakter sama kami menjadi langsung dekat satu sama lain. Kami merasa wanita-wanita Aries, adalah orang-orang yang keras kepala, suka melawan arus, impulsive, moody, jutek, ketus dan yang terdahsyat suka dibilang berlidah tajam. Yah berlidah tajam sebagai ekspresi kejujuran dan keterus-terangan kami, itulah dalih kami dalam membela diri. Selain kekurangannya itu kami merasa orang-orang Aries ulet, pantang menyerah, optimis, dan setia kawan. Kami juga merasa orang-orang Aries hidupnya tidak pernah mudah. Banyak rintangan dan kendala yang harus kami lewati. Mungkin karena semua ini kami jadi bersahabat.
Bagiku sahabat adalah harta yang tak akan terganti. Aku tidak melihat dari kalangan, jenis atau apapun asal sahabatku. Persahabatan tidak pernah mengenal garis dan batas. Persahabatan akan selalu mampu melewati dimensi apapun, mampu merentang jarak dan waktu. Dalam persahabatan tersimpan segala kemurnian, keindahan kasih dan sayang. Dalam persahabatan ada saatnya menerima ada pula saatnya memberi. Seperti sebuah lagu "Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu " Semoga dalam perjalanan hidupku, aku juga memberi manfaat bagi sahabat-sahabatku. Yang jelas aku menyimpan kasih dan cinta untuk sahabat-sahabatku.
Special untuk sahabatku yang lama menghilang: Novita (Mbak Ita) dari Bojonegoro, Jatim & I Made Ayu Santi (Santi) dari Jakarta dimanapun kamu berada aku menyimpan kasih dan sayang dalam hati. Thanks atas hari-hari indah yang telah kamu berikan padaku.
No comments:
Post a Comment