Saturday, May 30, 2009

Lubang Di Hati

By Letto

Ku buka mata dan ku lihat dunia
‘tlah ku terima anugerah dunia
Tak pernah aku menyesali yang ku punya
Tapi ku sadari ada lubang dalam hati
Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Ku menanti jawaban apa yang dikatakan hati

Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang dalam hati

Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin kau tak ingin aku berhenti

Kapan saja disaat keinginan tidak terwujud, disaat harapan tidak menjadi kenyataan, saat itulah kekecewaan datang menghujam. Kapan saja kekecewaan datang selalu disertai dengan rasa sakit dan perih. Selalu begitu sepanjang hidup. Menerima kekecewaan, kegagalan, dan kekalahan perlu proses belajar tersendiri, perlu manajemen hati. Tidak mudah menerima kekalahan, kegagalan dan kekecewaan. Apalagi mengelola kesedihan itu menjadi suatu pencerahan dalam hati. Kemudian menjadikan segala kesedihan itu menjadi berkah yang berarti. Sebab menjadi ikhlas, menjadi ridho atas segala kejadian yang menimpa diri, terutama kegagalan, kesedihan dan kekalahan tidaklah semudah mengatakannya.

Sejak kecil aku telah belajar, bahwa tidak mungkin aku mendapatkan semua yang ku inginkan. Karena aku tahu bahwa tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada sesuatupun yang sempurna. Sejak kecil aku belajar atau lebih tepatnya terpaksa harus belajar, mengelola kekecewaan untuk tidak menggulungku, menenggelamkan diri dalam kepedihan. Dan aku belajar bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diriku suatu saat nanti pasti ada hikmahnya, aku juga selalu yakin bahwa kepedihan, seberapa dalamnya itu dikemudian hari akan terganti, aku juga tahu bahwa kehidupan itu memiliki dua sisi yang saling melengkapi. Ada gelap ada terang, ada siang ada malam, ada sedih ada bahagia. Seperti daun tua yang gugurpun selalu tergantikan oleh pucuk-pucuk daun yang hijau, segar dan siap menghadapi siklus hidup yang baru. Begitulah kehidupan terus berputar, terus melaju.

Sungguh bukanlah pekerjaan mudah untukku mengelola kekecewaan, apalagi kalau kekecewaan itu menorehkan luka hati didalamnya. Pedih, perih dan sakit. Tambah sulit lagi apabila kekecewaan itu datang berbarengan satu sama lain. Saling menumpuk, menghantam, menyudutkan. Harus aku akui jangankan mengelola kekecewaan itu dengan benar, terkadang untuk bernafaspun demikian sulit. Aku seperti berada dalam lorong gelap yang panjang, dingin, licin, tanpa cahaya, tanpa pegangan. Tertatih-tatih, tersuruk-suruk aku berjalan, dengan segala keyakinan bahwa sepanjang apapun lorong itu, segelap apapun semua akan ada akhirnya. Akan ada ujung dari perjalanan yang menyakitkan, selalu ada cahaya dalam kegelapan. Aku tahu itu. Karena itu aku selalu memohon padaNya untuk diberi cahayaNya dalam keadaan gelap sekalipun. Karena aku tahu hidup tidak selalu terang benderang bermandikan cahaya bintang, bulan, dan matahari. Ada waktunya gelap datang, ada saatnya gerhana menimpa. Dalam kondisi itulah aku masih memiliki cahaya. Cahaya dihati, yang akan mengiringi langkah-langkah kakiku menyusuri lorong gelap yang panjang, dingin dan licin. Cahaya itu tidak akan menyala sendiri, harus terus digosok, digali, dibersihkan agar tetap benderang.

Dalam perjalanan hidup ada waktunya kekecewaan tergantikan dengan kebahagian seperti matahari yang mengikis habis air hujan yang tersembunyi dalam setiap lekuk daun. Tetapi adakalanya kekecewaan itu walaupun terganti dan terhapus masih meninggalkan luka yang dalam. Memberikan bekas lubang yang menganga. Lubang itu begitu sulit tertutupi. Berpayah-payah mencari pengisinya. Itulah lubang dihati. Dan aku tahu ada lubang dihatiku, yang teramat sulit aku tutupi, telah sepanjang perjalanan hidup aku mencari tanpa henti, aku mencari apapun yang mampu melengkapi lubang itu. Lelah, sakit, telah meremuk redam diriku, tapi tidak akan sedetikpun aku surut, tidak berhenti aku mencari.

Yah...aku akan terus mencari apapun yang mampu melengkapi lubang dalam hatiku. Di sepanjang langkahku. Tidak mungkin ada bahagia yang sempurna, aku tahu itu, setiap apapun selalu ada sebentuk pengorbanan, sebuah pajak yang harus dibayar. Tetapi aku yakin kekecewaan, kesedihan, kegagalan, kekalahan dan apapun itu terkadang memang diperlukan. Bukankah kebahagian akan terasa lebih setelah merasakan kesedihan. Dalam kesedihan, dalam kegelapan juga memaksaku untuk instropeksi diri, mengajakku menoleh kebelakang untuk melihat kesalahan. Kesedihan juga sebagai proses pematangan jiwa. Dalam segala yang telah aku lalui ini aku berharap ini semua menjadi pajak yang harus aku bayar untuk apapun yang aku inginkan. Aku juga berharap semua yang telah aku lewati ini sebagai proses pematangan diri, sebagai tangga-tangga yang akan mengantarkanku untuk menemukan sesuatu yang mampu melengkapi lubang di hati, mengantarkanku pada penemuan keping-keping puzzle kehidupanku, yang masih tercecer, masih berserakan. Serta memberikan cahaya yang selalu menyinari disepanjang hidupku, yang mampu mengisi lubang dihatiku. Semoga....

Thursday, May 14, 2009

Jejak Merpati



Aku rindu pada diriku sendiri. Rindu pada sosokku yang telah lewat bertahun-tahun lalu. Pada kehidupanku yang telah berlalu. Kehidupan yang dulu sering aku keluhkan, kehidupan yang dulu tidak aku syukuri, kehidupan yang aku lalui tanpa sesuatu yang bermakna, tanpa aku isi dengan sesuatu yang memiliki arti. Tetapi justru baru kusadari setelah semua terjadi, setelah semua lewat. Sesal selalu datang dikemudian hari bukan?
Karena itu, hari ini aku berjanji untuk melewati hari-hari tersisa yang masih bisa kumiliki dengan mengisinya menjadi lebih berarti, lebih bermakna. Aku tidak mau rasa sesal ini akan terulang di kemudian hari. Tetapi ijinkanlah aku mengenang kembali masa-masa itu. Masa-masa yang ternyata indah di kemudian hari. Masa-masa kebebasan baik dari segi waktu maupun finansial. Masa-masa kebebasanku. Masa-masa sebebas merpati.
Dulu saat aku masih sendiri, ketika aku bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhanku sendiri aku begitu bebas mengisi hari. Seperti merpati terbang tinggi, bebas lepas kemanapun sayapnya berkepak. Bebas memiliki hari dan hidupnya untuk diri sendiri, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang protes tidak ada yang membebani. Merpati itu terbang kesana kemari, mencari makna diri, mencari arti diri.
Tetapi kemanapun merpati pergi, dia akan meninggalkam jejak diri. Jejak-jejak yang terukir pasti. Jejak yang seharusnya nanti menjadi pelajaran yang berarti. Pelajaran tentang pencarian makna diri, pelajaran tentang arti diri, pelajaran tentang pencapaian dirinya. Pencapaian dalam hidupnya. Ternyata kemanapun merpati terbang tinggi, makna diri dan arti diri belumlah terhenti. Saat ini merpati masih terus terbang kian kemari, karena arti diri barulah tercapai setelah merpati itu tidak mungkin lagi terbang, setelah sayapnya tidak mampu berkepak, setelah sepasang kakinya tidak lagi meninggalkan jejak, setelah paruhnya tidak lagi menghela nafas.
Selama masih bernyawa merpati akan selalu meninggalkan jejaknya. Jejak yang boleh dilihat kembali, boleh ditengok lagi untuk dipelajari kembali. Untuk bekal menempuh jalan kehidupan yang terus berputar , bermacam rasa, beraneka warna, berjuta rupa, namun jejak merpati akan terukir lebih baik lagi. Sebab terkadang segala sesuatu baru terasa indahnya, terasa berarti setelah semua terlewati. Setelah semua terlepas. Dan janganlah sesal selalu terulang lagi, dan lagi. Belajarlah kembali dari jejak merpati.

Tuesday, May 12, 2009

Rasa Itu Bernama Marah


Aku marah
Kepada nasibku
Pada keadaanku
Pada hidupku
Pada keputusanku
Aku marah
Kepada semua yang terjadi padaku
Pada segala sesuatu yang tidak seperti keinginanku
Kenapa semua beban ini ditimpakan kepadaku
Kenapa segala duka ini harus aku tanggung
Karena aku merasa semua sudah diluar kesanggupanku.
Perasaan marah itu
Laksana gunung berapi yang meletus, memuntahkan lahar panas, batu, kerikil tajam dan menerbangkan abu vulkanik ke segala penjuru
Perasaan marah itu
Bagaikan arus listrik ribuan watt yang membuat rambutku bisa berdiri tegak lurus seperti ditumbuhi ribuan tanduk
Perasaan marah itu
Berwajah seperti api yang membakar hutan hijau, menghanguskan seluruh daun dan pohon.
Perasaan marah itu
Bagaikan gelombang dahsyat yang meluluh lantakkan apapun yang ada, menerjang, menyeret dan menghempas.
Perasaan marah itu
Menghancurkan seluruh benteng pertahananku, meluluh lantakkan diriku, meleburku, menggulungku, menghancurkan diriku, serta menjadikan diriku tiada daya terkubur dalam gemuruh bara rasa marah.
Oh...Ya Allah
Duhai Yang Maha pengasih, yang ampunanMu lebih dahsyat dari kemarahanku
Duhai Yang Maha Penyayang, yang RahmatMu tiada berbatas,
Tolonglah....
Hilangkanlah segala sebab yang menjadikan hambaMu ini berkeluh kesah, cemas, takut, sedih dan marah.
Jadikanlah hamba, manusia yang pandai bersyukur dalam keadaan sempit dan lapang.





Friday, May 08, 2009

Kupu-kupu Tanpa Warna


Aku bermimpi. Dalam mimpi, aku seperti tengah berada dalam geladak sebuah kapal yang sangat besar. Dalam geladak yang luas itu aku melihat berbagai macam orang yang sedang asyik melakukan kegiatan sendiri-sendiri. Diantara orang-orang itu aku melihat Mbah Putriku yang sudah meninggal dunia sedang membatik sebuah kain panjang. Kegiatan yang kerap dilakukan ketika almarhumah masih hidup. Aku segera menghampiri Mbah Putri, Kami tidak saling bertukar kata, aku hanya melihat Mbah Putri sedang membatik. Mbah Putriterlihat sumringah dan gembira. Disaat aku sedang melihat Mbah Putri membatik, tiba-tiba terdengar bunyi peluit kapal yang keras. Sebagai tanda kapal siap berangkat. Aku segera berpamitan kepada Mbah Putri bahwa aku harus turun. Mbah Putri hanya melambaikan tangan sambil tersenyum dan menyuruhku cepat-cepat turun dari kapal. Kemudian aku berlari kencang meninggalkan kapal itu.
Saat aku tiba di anjungan kapal aku melihat Anisa sedang berdiri sendirian ditengah anjungan. Aku menghampirinya, Anisa mengenakan seragam sekolahnya dan berdiri ditengah rintik hujan sambil menatapku tanpa kata-kata. Tatapan matanya sungguh tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidup. Tetapi aku tidak bisa memahami sepenuhnya apa yang tersirat dalam tatapan mata itu, seperti ada kesedihan, keraguan juga tatapan yang serasa jauuuuh menatap ke depan. Tatapan itu begitu menusuk hatiku, aku ingin menangis, memeluknya tapi saat itu hujan bertambah deras dan kapal sudah hampir diberangkatkan. Aku hanya bisa mengelus bahunya dan berkata membujuk “ Ayo..Nisa masuk, nanti kamu sakit”. Anisa hanya menatapku tanpa bergeming. Terdengar bunyi peluit sekali lagi, dan aku langsung melompat karena takut terbawa kapal. Sesaat setelah aku melompat aku menoleh ke belakang aku lihat kapal sudah berangkat. Anisa sudah tidak ada lagi. Dan akupun terbangun dengan perasaan capek, sedih, menyesal dan berbagai perasaan berkecamuk di hatiku. Waktu aku bermimpi itu belumlah seminggu sejak Anisa meninggal.

Anisa adalah keponakanku yang meninggal pada usia hampir sepuluh tahun karena penyakit Thalasemia Mayor yang dideritanya. Sebenarnya mengenang Anisa seperti menyenandungkan kidung kesedihan. Kisah hidupnya adalah Elegi. Hidup Anisa sesendu tatapan matanya. Anisa merupakan anak dari adikku, yang kehadirannya justru disambut dengan keterpaksaan. Adikku dan suaminya yang terpaksa menjalani pernikahan dini belum siap menjadi orang tua ketika Anisa hadir di tengah kehidupan meraka. Kehadiran Anisa justru seperti menjadikan beban bagi kehidupan remaja kedua orang tuanya. Karena sikap kedua orang tuanya itulah akhirnya Anisa diasuh dan dibesarkan oleh ibuku. Sehingga untukku Anisa lebih seperti adik sendiri ketimbang sebagai keponakan.

Dalam asuhan ibuku Anisa lebih terawat dan tumbuh dengan baik. Tetapi pertumbuhan Anisa tidak sesehat dan sepesat anak-anak lainnya. Dia sering sekali sakit, mudah panas, gampang batuk pilek dan sebagainya. Waktu itu Kami hanya menyangka karena Anisa tidak pernah mendapatkan Asi maka otomatis kekebalan tubuhnya tidak sebaik anak yang mendapatkan asi. Anisa sering terlihat pucat, lemas serta tidak energik seperti balita lainnya. Kadar hemoglobinnyapun cenderung rendah. Setelah menjalani banyak pemeriksaan dan tes darah Anisa dinyatakan mengindap thalasemia mayor sebelum genap usianya empat tahun. Sejak itulah kehidupannya sebagai penderita thalasemia mayor harus dilewati, Anisa harus menjalani serangkaian transfusi darah yang rutin setiap bulannya. Sampai pada suatu hari kondisi tubuhnya terus menurun, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi sumsum tulang belakang. Semenjak operasi keadaannya lebih membaik. Transfusi darah mulai berkurang frekuensinya.

Walaupun dalam kondisi sakit Anisa masih rajin sekolah, bahkan dia termasuk murid yang pandai dikelasnya. Tentu saja karena kondisinya dia tidak bisa beraktivitas seperti teman-temannya. Selain itu karena penyakitnya dia terbiasa dilarang ini itu mengakibatkan Anisa tumbuh menjadi gadis kecil yang cenderung pendiam, tidak ekspresif, pemalu dan kurang inisiatif. Dia jarang terlihat ceria, kecuali dengan teman-teman yang benar-benar sudah akrab dihatinya. Anisa juga tertutup. Tetapi dia begitu lembut hati dan sangat mengalah. Secara fisik dan mental Anisa sangat menderita. Dia sakit lahir dan batin. Dalam masa kecilnya dia diasuh oleh Eyangnya, kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya, harus menyaksikan pertengkaran terus menerus antara kedua orang tuanya. Dia lebih banyak mendapat perhatian dari Eyangnya dan kami bude-budenya. Kedua orang tuanya lebih peduli pada pertikaiannya sendiri, yang akhirnya berakhir dengan perceraian.

Karena kondisinya itulah maka ibuku dan kami, para Bude dan Pak De-nya jadi sangat menyayangi Anisa. Aku sendiri ikut menyaksikan pertumbuhan Anisa walaupun tidak banyak berpartisipasi, karena aku juga sibuk dengan kehidupan sendiri. Tetapi aku kadang membantu menjaganya, mengajaknya jalan-jalan membacakan buku cerita dan sebisa mungkin memberi warna bagi hidupnya. Setelah aku mempunyai penghasilan sendiri aku juga sering membelikannya mainan, sepatu, baju serta buku-buku. Aku sering mengodanya dengan julukan ‘Anisa AnGot’. “Kenapa AnGot, Bude?” tanyanya waktu itu. “AnGot itu Anak Gotong Royong.” Jawabku “ Soalnya yang beliin baju, bayar sekolah, buku-buku mainannya Nisa itu secara gotong royong. Rame-rame semua iuran, Kakung, Eyang, Pak De Yuk, Bude Upik, Bude Uut dan Bude Ayi.” Anisa tertawa gembira dijuluki AnGot “ Semua sayang aku ya, Bude?” Hatiku membiru mendengarnya. Setiap Lebaranpun kami semua selalu membelikan baju baru, sepatu baru dan sebagainya. Akhirnya Anisa jadi anak paling kaya setiap lebaran dibanding keponakan-keponakan yang lain. Kami keluarga besar sayang padanya. Anak-anak kami juga akrab dengannya karena mereka hampir sebaya.

Seminggu sebelum Anisa meninggal aku sempat pulang, bertemu dengannya. Dia sehat walaupun lebih kurus dan perutnya lebih membuncit. Dia banyak bersamaku dan anak-anak kalau aku datang ke rumah ibu. Karena kalau datang, aku selalu mengajaknya jalan-jalan, sekedar keliling kota, beli jajanan, mainan, dan sebagainya. Anisa juga akrab dengan ketiga anakku. Tetapi aku ingat waktu itu, saat aku datang dia kecewa karena aku tidak mengajak anak sulungku yang akrab sekali dengannya. Dia kecewa tetapi seperti biasa dia sangat ‘nrimo’ dan cenderung menyimpan sendiri perasaannya. Aku sedih tetapi juga tidak terlalu memperhatikannya karena saat itu anak bungsuku yang baru dua tahun sakit panas. Aku tidak sempat mengajaknya jalan-jalan seperti biasa, Tetapi malah mengajaknya ke dokter ikut memeriksakan anakku. Saat beli obat aku ingat aku hanya membelikannya jajan sekedarnya, padahal biasanya aku selalu mengajaknya makan-makan di Alun-alun tempat wisata kuliner malam hari di kota kami. Tetapi karena anakku sakit maka malam itu kami langsung pulang. Yah...kalau saja aku tahu itulah saat terakhir aku bersamanya, saat terakhir aku melihat. Kalau saja aku tahu.

Manusia memang tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Tak ada yang menyangka Anisa akan meninggal, saat itu dia tergolong sehat sebagai anak penderita thalasemia mayor. Dia masih masuk sekolah seperti biasa, Sampai pada hari Sabtu pagi tanggal 5 Maret 2005, Anisa merasa perutnya sakit. Jadi dia tidak masuk sekolah. Dia mengeluh pada ibuku perutnya sakit, padahal biasanya Anisa jarang mengeluh. Dia anak yang sangat tabah, cenderung tahan sakit, tidak rewel dan dia jarang mengeluh. Tetapi sore harinya sakitnya makin parah, dia terus menerus muntah-muntah. Kemudian ibuku membawanya ke rumah sakit. Makin malam kondisinya tidak membaik, akhirnya rumah sakit merujuk agar Anisa dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap peralatannya. Dari rumah sakit Purworejo Anisa dirujuk ke RSU Dr. Sardjito di Yogya. Akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat Anisa dibawa menuju Yogya. Manusia boleh berusaha tetapi Allah yang menentukan. Dalam perjalanan menuju Yogya itulah Anisa menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dari keterangan dokter yang memeriksa kematiannya, limpa dalam tubuh Anisa pecah. Itulah sebabnya dia mengalami muntah-muntah. Limpa Anisa pecah karena mengalami pembengkakan yang disebabkan penumpukan zat besi saat transfusi darah. Yah….Anisa sudah terlalu lelah berjuang melawan penyakitnya, lelah terus menerus bertaruh nyawa menjalani serangkaian pengobatan, telah cukup penderitaannya. … Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya, dan aku yakin itulah yang terbaik untuk Anisa. Itulah obat dari segala sakit yang dia derita di sepanjang perjalanan hidupnya. Anisa di panggil kembali kepadaNya hanya dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke sepuluh. Dia belumlah akil baliq, dia masih suci. Dan aku percaya dia akan menjadi bidadari penghuni surga.

Entah kenapa kepergian Anisa menyisakan rasa sesak didadaku, terkadang aku merasa belum memberinya banyak hal, aku belum melakukan yang terbaik untuknya. Aku belum maksimal menolong. Karena itulah aku tidak akan pernah bisa melupakan mimpi yang aku alami. Aku tak pernah bisa melupakan tatapan matanya, yang juga tak bisa kupahami apa maksudnya, tidak bisa kumengerti artinya. Mimpi adalah bunga tidur, kata orang begitu. Aku berharap begitu. Hanya bunga tidur belaka. Karena aku telah mengikhlaskan kepergiannya. Aku yakin itu yang terbaik untuknya. Itulah obat dari segala sakit yang telah dideritanya. Anisa telah tiada, tetapi bagiku Anisa meninggalkan kenangan tersendiri. Kenangan tentang perjalanan hidup gadis kecil yang tabah dan nrimo. Gadis kecil yang dalam belia usianya mengalami banyak penderitaan. Dia seperti kupu-kupu dengan sayap lemah terus terbang mencari bunga-bunga sebagai tempat hinggapnya. Kupu-kupu mungil gemulai namun tangguh dan kuat untuk terbang tinggi kesana kemari mencari bunganya. Untukku Anisa adalah kupu-kupu cantik nan gemulai, kupu-kupu mungil yang belum sempurna keindahan warna sayapnya. Kupu-kupu kecil yang kehadiranya memberikan keindahan tersendiri bagi taman bunga. Kupu-kupu yang memberi warna bagi sekitarnya, walaupun dia adalah kupu-kupu tanpa warna.

(In memorian: Anisa Wilujeng Sang Bidadari surga. Maafkan Bude Ayi..ya Nis)

Catatan Kecil Anisa Wilujeng (Almh)

In Memorian Anisa Wilujeng
(29 Mei 1995-06 Maret 2005)

MENGENAL THALASEMIA


Untuk ukuran awam, istilah Thalasemia mungkin masih cukup jarang terdengar. Padahal, di Indonesia sendiri terdapat cukup banyak penderita penyakit kelainan darah yang bersifat diturunkan secara genetik dan banyak terdistribusi di Asia ini, dan data yang ada juga pernah menyebutkan ada sekitar ratusan ribu orang pembawa sifat thalasemia yang beresiko diturunkan pada anak mereka, serta data lain yang menemukan bahwa 6-10% penduduk kita merupakan pembawa gennya.

Penderita thalasemia mayor yang kerap dipadankan dengan istilah thalasemia saja di negara kita sendiri sudah tercatat sekitar lima ribu diluar yang belum terdata atau kesulitan mengakses layanan kesehatan. Angka penderita dunia, sementara, jauh lebih besar dengan bandingan anggapan bahwa setiap tahunnya ada seratus ribu penderita baru yang lahir dari pasangan pembawa gen.

Sulitnya pilihan pengobatan dimana pasien biasanya membutuhkan transfusi darah terus menerus untuk memperpanjang hidup, dan tidak sempurnanya kesembuhan yang dicapai membuat kita mungkin perlu sedikit memberi perhatian lebih pada penyakit ini.

Sekilas Tentang Thalasemia

Penyakit thalasemia merupakan suatu kelainan darah bersifat genetik dimana kerusakan DNA akan menyebabkan tidak optimalnya produksi sel darah merah penderitanya serta mudah rusak sehingga kerap menyebabkan anemia.

Pusat dari mekanisme kelainan ini terletak pada salah satu gen pembentuk hemoglobin pada sel darah merah manusia, yang sekaligus juga berfungsi utama sebagai pengangkut oksigen.

Terkait dengan sifat genetik yang diturunkan pendahulunya ini, dikenal istilah 'thalasemia trait' (pembawa sifatnya). Sebagaimana orang-orang normal, individu-individu pembawa gen ini sama sekali tidak menunjukkan adanya suatu gejala. Masalah yang lebih serius akan terjadi bila sang pasangan juga merupakan seorang pembawa sehingga lebih berpotensi melahirkan anak dengan thalasemia mayor yang nantinya akan memerlukan transfusi darah secara rutin selama hidupnya.

Tindakan transfusi ini pun bukan merupakan suatu terapi penyembuh namun hanya bersifat suportif dalam mengurangi gejala dan punya resiko menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh pula, yang lebih lanjut bisa menyebabkan pembengkakan hati dan limpa.

Secara singkat, penjelasannya meliputi keadaan hemoglobin yang mengandung zat besi (Fe). Kerusakan sel darah merah pada penderita thalasemia akan mengakibatkan zat besi tertinggal di dalam tubuh dan bisa menumpuk dalam organ tubuh seperti jantung dan hati dan lama kelamaan akan mengganggu fungsi organ lainnya, selain juga bisa akibat suplai darah merah dari transfusi, dan ini menjadi penyebab kematian utama dari penderita thalasemia, terutama akibat penumpukan pada jantung.

Selain berpotensi menghasilkan keturunan penderita thalasemia mayor dan juga minor, pasangan pembawa gen ini juga berpotensi lebih besar dalam menghasilkan keturunan berupa thalasemia trait tadi, sehingga dikhawatirkan dapat menambah jumlah penderita secara cukup pesat.

Gejala thalasemia sendiri cukup bervariasi tergantung dari derajat kerusakan gen yang terjadi seperti anemia dengan gejala tambahan pucat, sulit tidur, lemas, kurang nafsu makan atau infeksi yang kerap berulang, kemudian juga jantung yang dipaksa bekerja lebih keras untuk memenuhi pembentukan hemoglobin, serta penipisan atau perapuhan tulang

karena sumsum tulang juga berperan penting dalam memproduksi hemoglobin tersebut.

Pada tampilan yang khas, penderita thalasemia sering memiliki batang hidung melesak ke dalam yang dikenal juga dengan istilah 'facies cooley' dan merupakan salah satu tanda khas thalasemia mayor.

Ada dua jenis thalasemia yang dikenal berdasarkan gejala klinis dan tingkatan keparahannya, yaitu thalasemia mayor dimana kedua orang tuanya merupakan pembawa sifat, serta thalasemia minor dimana gejalanya jauh lebih ringan dan sering hanya sebagai pembawa sifat saja. Pada thalasemia mayor gejala dapat muncul sejak awal masa anak-anak dengan kemungkinan bertahan hidup terbatas. Beberapa kasus yang ditemukan selama ini juga membuat munculnya penggolongan yang lebih baru, yaitu thalasemia intermedia dimana kondisinya berada di tengah-tengah kedua bentuk tersebut.

Deteksi Dini dan Penatalaksanaan

Skrining thalasemia yang sekarang mulai marak dengan banyaknya info dan publikasi mengenai penyakit ini dikenal dengan cara elektroforesis (analisis Hb) serta cara lain yang lebih baru yaitu HPLC (High Performance Liquid Chromatography) karena dianggap lebih akurat dengan keunggulan lainnya.

Deteksi dini terhadap penyakit ini sekarang dianggap para ahli sangat penting karena pertambahan jumlah penderita yang cukup pesat tadi, dan hasil penanganannya juga akan lebih baik ketimbang melakukan skrining ketika perjalanan penyakit telah lanjut. Sasaran pendeteksian adalah anak-anak dengan gejala yang dicurigai, pasangan usia subur serta ibu hamil sebagai syarat pemeriksaan prenatal. Deteksi dapat dilakukan sejak bayi masih di dalam kandungan karena kemungkinan lahirnya penderita dari pasangan pembawa gen sebesar 25 persen tadi.

Kalaupun harus memperhatikan gejalanya terlebih dahulu seperti pucat, gampang lemas dan sebagainya tadi, masih terlalu umum dan dapat terjadi pada banyak penyakit. Begitupun, gejala awal akan dapat terlihat ketika anak berusia 3 hingga 18 bulan.

Sebagian ahli berpendapat, bila tidak ditangani secara serius, anak-anak penderita thalasemia rata-rata hanya dapat bertahan hingga usia 8 tahun saja. Perawatan rutin berupa transfusi rutin terus menerus bisa memperpanjang harapan hidup dengan aktifitas dan kemampuan intelektual sama dengan orang normal, selain perlunya penggunaan obat untuk mengatasi penumpukan zat besi di dalam organ tadi, berupa obat Desferal yang biasa-nya diberikan lewat suntikan di bawah kulit untuk mengikat zat besi dan dikeluarkan melalui urin atau melalui infus.

Terbaru

Sekarang sudah ditemukan pula alternatif lain dari suntikan desferal tadi berupa obat oral (tablet) yang sama kemampuannya dalam mengurangi resiko gagal organ terutama jantung dengan mengurangi penumpukan zat besi tersebut.

Penemuan obat yang diberikan secara oral bagi penderita diatas usia 2 tahun ini, meski masih cukup mahal, paling tidak dapat memberikan harapan baru bagi penderita thalasemia yang selama ini mendapatkan tindakan terapi dengan cara-cara kurang menyenangkan tersebut, sementara menurut banyak ahli di negara maju, tindakan penatalaksanaan terbaik justru ada pada cara cangkok sumsum tulang dimana jaringan sumsum tulang penderita diganti dengan sumsum tulang donor yang cocok dari anggota keluarga, namun kenyataannya masih cukup sulit untuk dilakukan.

( Dikutip: dari Waspada Online by dr. Daniel Irawan)

Friday, May 01, 2009

Wanita dan Kecantikan


Kecantikan dan wanita adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Karena yang dikatakan cantik pasti seorang wanita. Setiap wanita dimana saja, siapa saja pasti ingin dikatakan cantik. Walau begitu tidak ada alat yang pasti untuk mengukur kecantikan. Kecantikan bersifat relatif dan berdasarkan persepsi kebanyakan orang atau masyarakat. Persepsi mengenai kecantikan juga berubah dari waktu ke waktu karena di pengaruhi oleh standar-standar tertentu yang ada dalam masyarakat, yang seringkali mengacu pada model, artis, maupun trend yang sedang berlangsung atau iklan yang ada dalam media-media massa. Sebagai contoh untuk persepsi masyarakat Indonesia saat ini, yang dikatakan cantik biasanya adalah orang yang berkulit putih, berwajah indo dan bertubuh ramping.

Atas nama kecantikan, biasanya wanita juga rela melakukan apa saja. Dari menguras uang di tabungan untuk membeli berbagai produk-produk kosmetik baik yang harganya murah maupun yang mahal, menunggu di salon berjam-jam, bahkan rela menderita kesakitan saat melakukan operasi plastik, perawatan kulit serta tubuh, bahkan terkadang mengabaikan kesehatan dan keselamatan diri hanya untuk dapat dikatakan cantik.

Bicara mengenai kecantikan, pada umumnya kita akan membayangkan tentang keindahan fisik yang tampak indah menawan melalui pandangan mata. Sementara itu menurut Estee Lauder, Kecantikan adalah keinginan menjadi cantik. Tanpa keinginan kecantikan hanyalah sebuah angan-angan (di kutip dari Majalah Femina Edisi Khusus th 2002). Demikianlah kata-kata mutiara dari pemilik perusahaan produk kecantikan ternama di dunia ini. Dari apa yang dikatakan Estee Lauder kita akan mengerti bahwa pada dasarnya kecantikan dapat diupayakan. Jadi setiap wanita mempunyai potensi untuk cantik. Untuk mengupayakan dan mengoptimalkan potensi cantik pada diri kita, maka kita harus pahami betul-betul faktor-faktor yang tidak bisa diubah dalam diri kita (bawaan lahir, seperti bentuk muka, warna kulit, serta tinggi badan) dan faktor-faktor yang bisa diubah (diupayakan) dengan latihan, dan perawatan.

Pada dasarnya kita bisa mengupayakan potensi kecantikan pada diri kita dengan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi kecantikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecantikan yang bisa di perbaiki antara lain adalah pola pikir yang mengacu pada inner beauty, cara bicara, cara berjalan, cara berdandan, cara berpakaian, serta melatih postur tubuh agar menampilkan bahasa tubuh yang positif dan mengetahui dengan benar cara merawat kulit dan tubuh.

Kita juga bisa belajar dari para artis, foto model, maupun selebritis dalam upaya berproses menjadi cantik. Para selebritis itu tidak selalu terlahir langsung cantik dan kinclong seperti itu. Mereka juga berusaha membenahi segala kekurangan pada diri meraka dengan belajar dan berupaya mengoptimalkan seluruh potensi dalam diri mereka untuk bisa tampil cantik. Untuk menjadi cantik tentu kita harus memperbaiki diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin. Mermperbaiki kecantikan lahiriah dapat diupayakan dengan melakukan perawatan tubuh, perawatan wajah, belajar tata rias wajah, memperbaiki cara berpakaian. Dalam arti berpakaian yang sesuai dengan usia, bentuk tubuh, warna kulit, dan kegiatan yang dilakukan. Semakin kita mengenali diri kita semakin kita mengerti bagaimana tampil lebih cantik. Seperti kata Estee Lauder “ Tidak ada wanita yang tidak cantik, yang ada hanyalah wanita yang tidak tahu bagaimana menjadi cantik”

Karena itu sebagai wanita kita harus terus berusaha menggali semua potensi yang ada dalam diri kita. Dengan mengasah potensi diri, kita akan terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, lebih percaya diri, lebih bersemangat dan sudah pasti aura kecantikan akan muncul dengan sendirinya.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai.
Wahai...wanita kau menyimpan kecantikan tersendiri di segala usiamu.
Kecantikanmu terpancar dari kematangan pribadimu