Friday, May 08, 2009

Kupu-kupu Tanpa Warna


Aku bermimpi. Dalam mimpi, aku seperti tengah berada dalam geladak sebuah kapal yang sangat besar. Dalam geladak yang luas itu aku melihat berbagai macam orang yang sedang asyik melakukan kegiatan sendiri-sendiri. Diantara orang-orang itu aku melihat Mbah Putriku yang sudah meninggal dunia sedang membatik sebuah kain panjang. Kegiatan yang kerap dilakukan ketika almarhumah masih hidup. Aku segera menghampiri Mbah Putri, Kami tidak saling bertukar kata, aku hanya melihat Mbah Putri sedang membatik. Mbah Putriterlihat sumringah dan gembira. Disaat aku sedang melihat Mbah Putri membatik, tiba-tiba terdengar bunyi peluit kapal yang keras. Sebagai tanda kapal siap berangkat. Aku segera berpamitan kepada Mbah Putri bahwa aku harus turun. Mbah Putri hanya melambaikan tangan sambil tersenyum dan menyuruhku cepat-cepat turun dari kapal. Kemudian aku berlari kencang meninggalkan kapal itu.
Saat aku tiba di anjungan kapal aku melihat Anisa sedang berdiri sendirian ditengah anjungan. Aku menghampirinya, Anisa mengenakan seragam sekolahnya dan berdiri ditengah rintik hujan sambil menatapku tanpa kata-kata. Tatapan matanya sungguh tidak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidup. Tetapi aku tidak bisa memahami sepenuhnya apa yang tersirat dalam tatapan mata itu, seperti ada kesedihan, keraguan juga tatapan yang serasa jauuuuh menatap ke depan. Tatapan itu begitu menusuk hatiku, aku ingin menangis, memeluknya tapi saat itu hujan bertambah deras dan kapal sudah hampir diberangkatkan. Aku hanya bisa mengelus bahunya dan berkata membujuk “ Ayo..Nisa masuk, nanti kamu sakit”. Anisa hanya menatapku tanpa bergeming. Terdengar bunyi peluit sekali lagi, dan aku langsung melompat karena takut terbawa kapal. Sesaat setelah aku melompat aku menoleh ke belakang aku lihat kapal sudah berangkat. Anisa sudah tidak ada lagi. Dan akupun terbangun dengan perasaan capek, sedih, menyesal dan berbagai perasaan berkecamuk di hatiku. Waktu aku bermimpi itu belumlah seminggu sejak Anisa meninggal.

Anisa adalah keponakanku yang meninggal pada usia hampir sepuluh tahun karena penyakit Thalasemia Mayor yang dideritanya. Sebenarnya mengenang Anisa seperti menyenandungkan kidung kesedihan. Kisah hidupnya adalah Elegi. Hidup Anisa sesendu tatapan matanya. Anisa merupakan anak dari adikku, yang kehadirannya justru disambut dengan keterpaksaan. Adikku dan suaminya yang terpaksa menjalani pernikahan dini belum siap menjadi orang tua ketika Anisa hadir di tengah kehidupan meraka. Kehadiran Anisa justru seperti menjadikan beban bagi kehidupan remaja kedua orang tuanya. Karena sikap kedua orang tuanya itulah akhirnya Anisa diasuh dan dibesarkan oleh ibuku. Sehingga untukku Anisa lebih seperti adik sendiri ketimbang sebagai keponakan.

Dalam asuhan ibuku Anisa lebih terawat dan tumbuh dengan baik. Tetapi pertumbuhan Anisa tidak sesehat dan sepesat anak-anak lainnya. Dia sering sekali sakit, mudah panas, gampang batuk pilek dan sebagainya. Waktu itu Kami hanya menyangka karena Anisa tidak pernah mendapatkan Asi maka otomatis kekebalan tubuhnya tidak sebaik anak yang mendapatkan asi. Anisa sering terlihat pucat, lemas serta tidak energik seperti balita lainnya. Kadar hemoglobinnyapun cenderung rendah. Setelah menjalani banyak pemeriksaan dan tes darah Anisa dinyatakan mengindap thalasemia mayor sebelum genap usianya empat tahun. Sejak itulah kehidupannya sebagai penderita thalasemia mayor harus dilewati, Anisa harus menjalani serangkaian transfusi darah yang rutin setiap bulannya. Sampai pada suatu hari kondisi tubuhnya terus menurun, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi sumsum tulang belakang. Semenjak operasi keadaannya lebih membaik. Transfusi darah mulai berkurang frekuensinya.

Walaupun dalam kondisi sakit Anisa masih rajin sekolah, bahkan dia termasuk murid yang pandai dikelasnya. Tentu saja karena kondisinya dia tidak bisa beraktivitas seperti teman-temannya. Selain itu karena penyakitnya dia terbiasa dilarang ini itu mengakibatkan Anisa tumbuh menjadi gadis kecil yang cenderung pendiam, tidak ekspresif, pemalu dan kurang inisiatif. Dia jarang terlihat ceria, kecuali dengan teman-teman yang benar-benar sudah akrab dihatinya. Anisa juga tertutup. Tetapi dia begitu lembut hati dan sangat mengalah. Secara fisik dan mental Anisa sangat menderita. Dia sakit lahir dan batin. Dalam masa kecilnya dia diasuh oleh Eyangnya, kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya, harus menyaksikan pertengkaran terus menerus antara kedua orang tuanya. Dia lebih banyak mendapat perhatian dari Eyangnya dan kami bude-budenya. Kedua orang tuanya lebih peduli pada pertikaiannya sendiri, yang akhirnya berakhir dengan perceraian.

Karena kondisinya itulah maka ibuku dan kami, para Bude dan Pak De-nya jadi sangat menyayangi Anisa. Aku sendiri ikut menyaksikan pertumbuhan Anisa walaupun tidak banyak berpartisipasi, karena aku juga sibuk dengan kehidupan sendiri. Tetapi aku kadang membantu menjaganya, mengajaknya jalan-jalan membacakan buku cerita dan sebisa mungkin memberi warna bagi hidupnya. Setelah aku mempunyai penghasilan sendiri aku juga sering membelikannya mainan, sepatu, baju serta buku-buku. Aku sering mengodanya dengan julukan ‘Anisa AnGot’. “Kenapa AnGot, Bude?” tanyanya waktu itu. “AnGot itu Anak Gotong Royong.” Jawabku “ Soalnya yang beliin baju, bayar sekolah, buku-buku mainannya Nisa itu secara gotong royong. Rame-rame semua iuran, Kakung, Eyang, Pak De Yuk, Bude Upik, Bude Uut dan Bude Ayi.” Anisa tertawa gembira dijuluki AnGot “ Semua sayang aku ya, Bude?” Hatiku membiru mendengarnya. Setiap Lebaranpun kami semua selalu membelikan baju baru, sepatu baru dan sebagainya. Akhirnya Anisa jadi anak paling kaya setiap lebaran dibanding keponakan-keponakan yang lain. Kami keluarga besar sayang padanya. Anak-anak kami juga akrab dengannya karena mereka hampir sebaya.

Seminggu sebelum Anisa meninggal aku sempat pulang, bertemu dengannya. Dia sehat walaupun lebih kurus dan perutnya lebih membuncit. Dia banyak bersamaku dan anak-anak kalau aku datang ke rumah ibu. Karena kalau datang, aku selalu mengajaknya jalan-jalan, sekedar keliling kota, beli jajanan, mainan, dan sebagainya. Anisa juga akrab dengan ketiga anakku. Tetapi aku ingat waktu itu, saat aku datang dia kecewa karena aku tidak mengajak anak sulungku yang akrab sekali dengannya. Dia kecewa tetapi seperti biasa dia sangat ‘nrimo’ dan cenderung menyimpan sendiri perasaannya. Aku sedih tetapi juga tidak terlalu memperhatikannya karena saat itu anak bungsuku yang baru dua tahun sakit panas. Aku tidak sempat mengajaknya jalan-jalan seperti biasa, Tetapi malah mengajaknya ke dokter ikut memeriksakan anakku. Saat beli obat aku ingat aku hanya membelikannya jajan sekedarnya, padahal biasanya aku selalu mengajaknya makan-makan di Alun-alun tempat wisata kuliner malam hari di kota kami. Tetapi karena anakku sakit maka malam itu kami langsung pulang. Yah...kalau saja aku tahu itulah saat terakhir aku bersamanya, saat terakhir aku melihat. Kalau saja aku tahu.

Manusia memang tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Tak ada yang menyangka Anisa akan meninggal, saat itu dia tergolong sehat sebagai anak penderita thalasemia mayor. Dia masih masuk sekolah seperti biasa, Sampai pada hari Sabtu pagi tanggal 5 Maret 2005, Anisa merasa perutnya sakit. Jadi dia tidak masuk sekolah. Dia mengeluh pada ibuku perutnya sakit, padahal biasanya Anisa jarang mengeluh. Dia anak yang sangat tabah, cenderung tahan sakit, tidak rewel dan dia jarang mengeluh. Tetapi sore harinya sakitnya makin parah, dia terus menerus muntah-muntah. Kemudian ibuku membawanya ke rumah sakit. Makin malam kondisinya tidak membaik, akhirnya rumah sakit merujuk agar Anisa dibawa ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap peralatannya. Dari rumah sakit Purworejo Anisa dirujuk ke RSU Dr. Sardjito di Yogya. Akhirnya sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat Anisa dibawa menuju Yogya. Manusia boleh berusaha tetapi Allah yang menentukan. Dalam perjalanan menuju Yogya itulah Anisa menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dari keterangan dokter yang memeriksa kematiannya, limpa dalam tubuh Anisa pecah. Itulah sebabnya dia mengalami muntah-muntah. Limpa Anisa pecah karena mengalami pembengkakan yang disebabkan penumpukan zat besi saat transfusi darah. Yah….Anisa sudah terlalu lelah berjuang melawan penyakitnya, lelah terus menerus bertaruh nyawa menjalani serangkaian pengobatan, telah cukup penderitaannya. … Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya, dan aku yakin itulah yang terbaik untuk Anisa. Itulah obat dari segala sakit yang dia derita di sepanjang perjalanan hidupnya. Anisa di panggil kembali kepadaNya hanya dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke sepuluh. Dia belumlah akil baliq, dia masih suci. Dan aku percaya dia akan menjadi bidadari penghuni surga.

Entah kenapa kepergian Anisa menyisakan rasa sesak didadaku, terkadang aku merasa belum memberinya banyak hal, aku belum melakukan yang terbaik untuknya. Aku belum maksimal menolong. Karena itulah aku tidak akan pernah bisa melupakan mimpi yang aku alami. Aku tak pernah bisa melupakan tatapan matanya, yang juga tak bisa kupahami apa maksudnya, tidak bisa kumengerti artinya. Mimpi adalah bunga tidur, kata orang begitu. Aku berharap begitu. Hanya bunga tidur belaka. Karena aku telah mengikhlaskan kepergiannya. Aku yakin itu yang terbaik untuknya. Itulah obat dari segala sakit yang telah dideritanya. Anisa telah tiada, tetapi bagiku Anisa meninggalkan kenangan tersendiri. Kenangan tentang perjalanan hidup gadis kecil yang tabah dan nrimo. Gadis kecil yang dalam belia usianya mengalami banyak penderitaan. Dia seperti kupu-kupu dengan sayap lemah terus terbang mencari bunga-bunga sebagai tempat hinggapnya. Kupu-kupu mungil gemulai namun tangguh dan kuat untuk terbang tinggi kesana kemari mencari bunganya. Untukku Anisa adalah kupu-kupu cantik nan gemulai, kupu-kupu mungil yang belum sempurna keindahan warna sayapnya. Kupu-kupu kecil yang kehadiranya memberikan keindahan tersendiri bagi taman bunga. Kupu-kupu yang memberi warna bagi sekitarnya, walaupun dia adalah kupu-kupu tanpa warna.

(In memorian: Anisa Wilujeng Sang Bidadari surga. Maafkan Bude Ayi..ya Nis)

No comments: