
Aku rindu pada diriku sendiri. Rindu pada sosokku yang telah lewat bertahun-tahun lalu. Pada kehidupanku yang telah berlalu. Kehidupan yang dulu sering aku keluhkan, kehidupan yang dulu tidak aku syukuri, kehidupan yang aku lalui tanpa sesuatu yang bermakna, tanpa aku isi dengan sesuatu yang memiliki arti. Tetapi justru baru kusadari setelah semua terjadi, setelah semua lewat. Sesal selalu datang dikemudian hari bukan?
Karena itu, hari ini aku berjanji untuk melewati hari-hari tersisa yang masih bisa kumiliki dengan mengisinya menjadi lebih berarti, lebih bermakna. Aku tidak mau rasa sesal ini akan terulang di kemudian hari. Tetapi ijinkanlah aku mengenang kembali masa-masa itu. Masa-masa yang ternyata indah di kemudian hari. Masa-masa kebebasan baik dari segi waktu maupun finansial. Masa-masa kebebasanku. Masa-masa sebebas merpati.
Dulu saat aku masih sendiri, ketika aku bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhanku sendiri aku begitu bebas mengisi hari. Seperti merpati terbang tinggi, bebas lepas kemanapun sayapnya berkepak. Bebas memiliki hari dan hidupnya untuk diri sendiri, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang protes tidak ada yang membebani. Merpati itu terbang kesana kemari, mencari makna diri, mencari arti diri.
Tetapi kemanapun merpati pergi, dia akan meninggalkam jejak diri. Jejak-jejak yang terukir pasti. Jejak yang seharusnya nanti menjadi pelajaran yang berarti. Pelajaran tentang pencarian makna diri, pelajaran tentang arti diri, pelajaran tentang pencapaian dirinya. Pencapaian dalam hidupnya. Ternyata kemanapun merpati terbang tinggi, makna diri dan arti diri belumlah terhenti. Saat ini merpati masih terus terbang kian kemari, karena arti diri barulah tercapai setelah merpati itu tidak mungkin lagi terbang, setelah sayapnya tidak mampu berkepak, setelah sepasang kakinya tidak lagi meninggalkan jejak, setelah paruhnya tidak lagi menghela nafas.
Selama masih bernyawa merpati akan selalu meninggalkan jejaknya. Jejak yang boleh dilihat kembali, boleh ditengok lagi untuk dipelajari kembali. Untuk bekal menempuh jalan kehidupan yang terus berputar , bermacam rasa, beraneka warna, berjuta rupa, namun jejak merpati akan terukir lebih baik lagi. Sebab terkadang segala sesuatu baru terasa indahnya, terasa berarti setelah semua terlewati. Setelah semua terlepas. Dan janganlah sesal selalu terulang lagi, dan lagi. Belajarlah kembali dari jejak merpati.
Karena itu, hari ini aku berjanji untuk melewati hari-hari tersisa yang masih bisa kumiliki dengan mengisinya menjadi lebih berarti, lebih bermakna. Aku tidak mau rasa sesal ini akan terulang di kemudian hari. Tetapi ijinkanlah aku mengenang kembali masa-masa itu. Masa-masa yang ternyata indah di kemudian hari. Masa-masa kebebasan baik dari segi waktu maupun finansial. Masa-masa kebebasanku. Masa-masa sebebas merpati.
Dulu saat aku masih sendiri, ketika aku bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhanku sendiri aku begitu bebas mengisi hari. Seperti merpati terbang tinggi, bebas lepas kemanapun sayapnya berkepak. Bebas memiliki hari dan hidupnya untuk diri sendiri, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang protes tidak ada yang membebani. Merpati itu terbang kesana kemari, mencari makna diri, mencari arti diri.
Tetapi kemanapun merpati pergi, dia akan meninggalkam jejak diri. Jejak-jejak yang terukir pasti. Jejak yang seharusnya nanti menjadi pelajaran yang berarti. Pelajaran tentang pencarian makna diri, pelajaran tentang arti diri, pelajaran tentang pencapaian dirinya. Pencapaian dalam hidupnya. Ternyata kemanapun merpati terbang tinggi, makna diri dan arti diri belumlah terhenti. Saat ini merpati masih terus terbang kian kemari, karena arti diri barulah tercapai setelah merpati itu tidak mungkin lagi terbang, setelah sayapnya tidak mampu berkepak, setelah sepasang kakinya tidak lagi meninggalkan jejak, setelah paruhnya tidak lagi menghela nafas.
Selama masih bernyawa merpati akan selalu meninggalkan jejaknya. Jejak yang boleh dilihat kembali, boleh ditengok lagi untuk dipelajari kembali. Untuk bekal menempuh jalan kehidupan yang terus berputar , bermacam rasa, beraneka warna, berjuta rupa, namun jejak merpati akan terukir lebih baik lagi. Sebab terkadang segala sesuatu baru terasa indahnya, terasa berarti setelah semua terlewati. Setelah semua terlepas. Dan janganlah sesal selalu terulang lagi, dan lagi. Belajarlah kembali dari jejak merpati.
No comments:
Post a Comment